Pengembangan Pelabuhan Muara Jati Untuk Dukung Tanjung Priok dan Tanjung Emas

0
561
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, Rabu (3/12/2014)

Cirebon – (suaracargo.com)

Awal tahun 2016 nanti, PT Pelindo II/International Port Corporation (IPC) berencana akan melakukan grundbreaking atau dimulainya awal konstruksi reklamasi Pelabuhan Cirebon seluas 50 hektare. Pengembangan Pelabuhan Muara Jati menjadi pelabuhan peti kemas seperti pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta tersebut akan dijadikan sebagai salah satu pelabuhan andalan kegiatan ekonomi Indonesia. Demikian disampaikan oleh Manager Operasional PT Pelindo II, Yosianis Marciano.

Yosianis menyampaikan perkembangan konstruksi pelabuhan tersebut terkait rencana besar pengembangan Pelabuhan Muara Jati Cirebon, sebagai salah satu poros maritim nusantara. Ia mengatakan, pengembangan Pelabuhan Cirebon tersebut bukan dimaksudkan untuk pengganti Pelabuhan Cilamaya yang ada di Karawang namun lebih karena faktor kebutuhan. Reklamasi pantai tahap awal, tambah Yosianis, adalah untuk perluasan Pelabuhan Cirebon. Reklamasi tersebut akan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 triliun lebih. Pengembangan tahap 1 dimulai pada awal 2016 hingga 2018 dengan perluasan sekitar 50 hektare. Sementara itu, pengembangan tahap ke-2 dilakukan di tahun 2020, seluas 150 hektare.

“Pelabuhan Cirebon akan melakukan reklamasi seluas 50 hektare dari luas sekarang yang hanya 47 hektare. Nantinya panjang dermaga akan dibangun 300×700 meter. Pelabuhan Cirebon dianggap paling ideal menjadi pelabuhan peti kemas setelah Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Mas,” ujar Yosianis, saat ditemui “FC” di pelabuhan Cirebon, Rabu (16/12). Ia juga mengatakan bahwa saat ini pemerintah pusat sedang melakukan visibility studies terkait master plan yang disodorkan oleh PT Pelindo II untuk reklamasi tahap awal nanti. Dikatakan pula oleh Yossianis, set plan sedang dikaji oleh Kemeterian Perhubungan (Kemenhub), dan tinggal menunggu persetejuan saja.

“Untuk perizinan AMDAL dan sebagainya, kami pun sudah disiapkan. Karena izin AMDAL baru boleh diterbitkan jika master plan reklamasi pelabuhan sudah dikaji dan disetujui Kemenhub,” kata Yossi panggilan akrabnya. Yossi juga menjelaskan, tren pengiriman logistik melalui kapal laut semakin besar. Pelabuhan sebesar Tanjung Priok dan Tanjung Mas saja sudah tidak mampu menampung bahan-bahan curah. Pelabuhan Cirebon nantinya akan diproyeksikan untuk menunjang logistik barang-barang curah seperti minyak sawit.

“Dampak setelah terjadi reklamasi pelabuhan Cirebon menjadi pelabuhan internasional, akan memberikan multiplayer effect positif bagi masyarakat maupun Pemerintah Kota Cirebon,” katanya. Menurut Yossi Cirebon merupakan daerah yang strategis sebagai pelabuhan yang menopang bongkar muat batu bara, untuk membantu Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Yossi juga menilai, pelabuhan Cirebon adalah satu-satunya pelabuhan yang cukup diandalkan sebagai pelabuhan multipurpose, seperti pengiriman bahan curah kering, general cargo, bahan baku, dan muatan barang-barang curah.

Secara terpisah, anggota Komisi DPRD Kota Cirebon, Imam Yahya mengatakan, pihaknya menyambut positif dengan adanya rencana pembangunan Pelabuhan Cirebon tersebut. Yang terpenting menurut Iman, rencana pengembangan pelabuhan itu membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. “PT Pelindo harus bisa memberikan proteksi dan manfaat bagi masyarakat sekitar. Proteksi itu dapat berupa perlindungan kesehatan bagi warga, maupun proteksi bagi pengusaha lokal di pelabuhan,” katanya.*

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here