Pengembangan Pusat Logistik Berikat Untuk Sektor Migas Dinilai Cocok Dibangun di Balikpapan

0
267

Jakarta – (suaracargo.com)

Balikpapan, Kalimantan Timur dipandang sebagai area yang strategis menjadi pusat logistik berikat (PLB) sektor industri minyak dan gas.

Setijadi, Chairman Suppy Chain Indonesia (SCI) menyatakan, peresmian PLB menunjukkan komitmen pemerintah merealisasikan Paket Kebijakan Ekonomi II. PLB akan mendorong penurunan biaya logistik dibandingkan memakai gudang berikat. Dia pun berpesan agar pengembangan PLB selanjutnya terus disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

“PLB di Balikpapan itu sangat tepat untuk sektor migas karena akan mengalihkan lokasi penyimpanan sebelumnya di Singapura ke Indonesia,” papar Setijadi kepada Bisnis, Jumat (11/3/2016).

PLB merupakan konsep yang telah ada sejak lama dalam bentuk kawasan berikat. Namun demikian, penetapan PMK 272/2015 tentang PKB diharapkan dapat memperkuat konsepsi maupun implementasinya yang selama ini kurang optimal dalam efisiensi logistik.

Efektivitas PLB membutuhkan peningkatan peran berbagai pihak, terutama pihak instansi kepabeanan. Selain itu, regulasi terkait juga harus diperbaiki dan disiapkan, terutama yang berkaitan dengan proses ekspor-impor. Termasuk yang harus diperbaiki adalah sektor transparansi dan birokrasi perizinan juga harus diperbaiki, tambahnya lagi.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Pelabuhan Penajam Buana Taka, Billy P Kadar mengakui Astra Port and Logistic Center atau Eastkal Supply Base yang berlokasi di kawasan industri Buluminung, Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur ini memiliki lokasi di teluk Balikpapan dipandang sangat strategis karena dekat pelayaran internasional.

“Investasi kami tidak banyak, hanya untuk sistem dan CCTV saja cuma Rp500 juta, karena kami sudah menyediakan lahan dan fasilitas sejak tiga tahun lalu,” kata Billy kepada Bisnis, Kamis (10/3/2016).

Surat Keputusan dan sertifikasi pengoperasian PLB membuatnya semakin yakin menanggapi sejumlah permintaan klien sektor migas. Dia menyebut, konsep PLB tersebut sangat revolusioner sehingga akan mengubah kebiasaan klien.

“Klien tentu harus berkoordinasi dulu dengan partner mereka di luar negeri, karena dulu barang sudah sampai di Indonesia, baru diserahkan ke Astra, sekarang sudah tidak. Sekarang, taruh saja di PLB dan dibayarkan, ini mengubah guiding terms,” tuturnya.

Billy juga mengapresiasi insentif PLB yang tercantum dalam Paket Kebijakan Ekonomi II tentang tidak dipungut pajak dalam rangka impor (PDRI). Menurutnya, PDRI saja bisa mempengaruhi nilai barang sektor migas antara 5%-10%.

Insentif lainnya yakni pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPNBM) membuat sejumlah barang lebih kompetitif dan akan membuat customer berlomba-lomba masuk ke PLB Indonesia.

“Oleh sebab itu kami menargetkan klien dibagi dua, sebagai PD PLB, dab perusahaan yang hanya keluar-masuk barang. Perusahaan untuk keluar-masuk barang kami proyeksikan bisa menghasilkan revenue minimal Rp3miliar-Rp5 miliar, atau sekitar 15% dari revenue sekarang,” jelas Billy.

Direktur PT Petrosea Johanes Ispurnawan mengatakan, pasca peresmian pusat logistik berikat (PLB) dari pemerintah pusat, saat ini perusahaannya sudah siap menggarap PLB untuk sektor minyak dan gas (migas) di Balikpapan.

“Kami sudah siap menyelenggarakan PLB di Balikpapan, jadi kesiapan sarana fisik kemudian secara sistem, koordinasi kepada stakeholder sudah kami siapkan dan kami berharap tahun ini bisa mencapai KPI yang ditentukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,” ujar Johanes.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY