Penggunaan Kereta Api Sebagai Sarana Angkut Logistik Diyakini Tingkatkan Keuntungan

0
822
Ilustrasi Kereta Peti Kemas (surabaya.bisnis.com)
Ilustrasi Kereta Peti Kemas (surabaya.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Penggunaan kereta api sebagai sarana pengiriman logistik diperkirakan mampu meningkatkan keuntungan sekitar dua sampai tiga persen. Besarnya keuntungan itu berkat keunggulan kapasitas kereta api yang mampu membawa kargo dalam jumlah besar dan waktu tempuh yang lebih cepat sehingga efisien dalam distribusi.

“Logistik darat 70 persennya masih menggunakan truk atau kendaraan berat. Jika 20 persennya bisa dipindah ke kereta bisa lebih untung dua sampai tiga persen,” ujar kata pakar transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (21/3/2015) dan dilansir tempo.co.

Selain itu, dengan menambah alokasi logistik melalui kereta api, beban jalan raya yang kerap dilalui kendaraan niaga yang berat akan berkurang. “Kereta lebih menguntungkan. Pemerintah juga bisa menghemat pengeluaran perawatan atau perbaikan infrastruktur jalan,” ujarnya.

Terkait dengan pandangan tersebut, ekonom dari Universitas Indonesia Toto Pranoto, mengatakan bahwa penggerak utama pendapatan PT KAI (Persero) akan berasal dari kereta barang. PT KAI memproyeksikan pendapatan di tahun 2018 mencapai Rp22,4 triliun dengan sumbangan kereta barang mencapai 52 persen.

“Pertumbuhan (pendapatan) kereta barang sekarang sudah 50 persen dibandingkan kereta penumpang. Ini merupakan perubahan yang signifikan karena 10 tahun lalu pendapatan utama industri kereta api berasal dari kereta api penumpang dengan proporsi 70 persen dari seluruh pendapatan,” kata Toto.

Sumbangan terbesar pendapatan kereta barang berasal dari angkutan batu bara dengan proporsi 70 persen. Sedangkan sisanya berasal dari pengangkutan bahan bakar minyak (BBM), peti kemas, semen curah, hasil perkebunan, dan kargo.

Menurut dia, tren kereta barang sebagai kontributor utama pertumbuhan industri perkeretaapian juga terjadi di negara lain, seperti India dan Tiongkok, melalui dukungan infrastruktur yang makin maju. Pembangunan jalur kereta barang menjadi penting karena jenis angkutan ini dianggap sangat menguntungkan secara finansial dengan proporsi 65 persen dari total penerimaan dan membantu secara signifkan dalam “cross subsidy” dengan kereta penumpang.

Untuk Indonesia, kata dia, peningkatan aktivitas kereta barang telah didukung dengan pembangunan jalur ganda di Pulau Jawa dan Sumatera Selatan, serta jalur rel dari Stasiun Araskabu ke Bandara Kualanamu. “Investasi KAI di bidang prasarana kereta barang dan bandara dimaksudkan untuk mempercepat dan memperluas jalur layanan kereta api sekaligus menangkap peluang bisnis yang ada,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Kepala LM FEB UI itu.

Dengan diselesaikannya pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa pada 2014, kereta api yang melintas di jalur tersebut dapat meningkatkan frekuensi dan kapasitasnya hingga 200-300 persen. Sementara dari data Kementerian Perhubungan terlihat potensi peningkatan kereta api barang dari lima trip per hari dengan kapasitas 160 TEUs per hari.

Maka, dengan adanya jalur ganda, akan berpotensi meningkat sebanyak tiga kali lipat menjadi 15 kali per hari dengan kapasitas mencapai 500 TEUs/hari. Berdasarkan data Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) PT KAI, jumlah
perjalanan kereta barang terus meningkat dari semula 204 perjalanan pada 2011 menjadi 253 perjalanan pada 2013 dengan lama perjalanan yang relatif lebih cepat.

Sementara dari sisi kinerja keuangan, pendapatan yang diperoleh oleh PT KAI dari kereta barang juga meningkat dari Rp2,54 miliar (2011) menjadi Rp3,09 miliar (2013).

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here