Pengusaha Logistik Inginkan Variasi Moda Transportasi Barang

0
254
ilustrasi truk barang (industri.bisnis.com)
ilustrasi truk barang (industri.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pelaku usaha logistik mengharapkan adanya perbandingan tarif angkut yang tetap kompetitif antarmoda transportasi yang mendukung pengangkutan kontainer dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok. Pasalnya, dengan moda transportasi darat yang ada saat ini, pelaku usaha logistik harus menanggung beban inefisiensi biaya mencapai 30 persen hingga 35 persen akibat kemacetan.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki N Hanafi mengatakan, penentuan tarif yang kompetitif harus seiring dengan pelayanan yang baik dari segi waktu dan bongkar muat. Saat ini ada tiga pilihan yang diberikan, yakni jalur truk (darat), kanal (laut), dan kereta api. Ia juga meyakini, keberadaan kanal dan jalur kereta tidak akan menimbulkan gesekan dengan pengusaha truk.

“Kalau nanti salah satu yang murah atau yang costnya tidak efisien, maka konsumen tidak akan pilih. Tentu yang dipilih moda yang cepat, aman, artinya yang efisien dan efektif,” kata Yukki, Minggu (13/9).

Dengan adanya tiga pilihan moda, akan membantu mengurangi beban pengangkutan melalui darat dengan truk yang hingga kini masih menjadi satu-satunya alternatif ke pelabuhan.

“Pemilik angkutan darat enggak khawatir kok, karena volume yang dapat diangkut juga tidak ter lalu besar. Bukan saling bersaing, tapi saling mengisi,” tegasnya, seperti dilansir sinarharapan.co.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan mengatakan, volume barang yang bisa diangkut oleh kereta api hanya berkisar 10 persen hingga 13 persen dari total jumlah kontainer yang ada di pelabuhan.

Pengusaha angkutan truk mengaku tak merasa khawatir menurunnya pangsa pasar akibat kehadiran KA yang masuk ke area bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. “Kalau dia pemerintah bikin jalur kereta di atas tanah atau di bawah tanah, itu mungkin bisa mengurangi kemacetan, tapi kalau lintasannya memotong jalan raya itu menambah kemacetan,” ucapnya.

KA lebih murah

Praktisi kepelabuhanan dari Supply Chain Indonesia (SCI) Anang Hidayat mengakui, dari semua pilihan moda angkut, pengangkutan kontainer menuju pelabuhan menggunakan KA lebih murah dibandingkan kanal. Angkutan KA bisa ditenagai oleh listrik, sementara kapal tongkang cenderung menggunakan bahan bakar minyak.

Sebelumnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II/IPC memang akan menggunakan tongkang yang ramah lingkungan dengan bahan bakar LNG. Jalur kanal memiliki keunggulan karena tidak harus berhadapan dengan jalur jalan seperti pada rel.

Selanjutnya, moda kereta juga akan memiliki keunggulan yakni dari segi kecepatan waktu bila dibandingngkan tongkang. Untuk kapal tongkang dengan kecepatan 12 knots membutuhkan 2 jam sampai 3 jam untuk sampai ke pelabuhan atau sebaliknya.

“Kalau kereta bisa satu jam saja, tapi frekuensinya kereta bisa sanggup berapa. Kalau barge mungkin sehari bisa tiga kali. Kereta maksimum sehari dua kali dengan mencuri waktu komersial,” kata dia.

Kementerian Koordinasi Bidang Maritim dan Sumber Daya menargetkan pembangunan konstruksi jalur kereta api menuju dermaga Pelabuhan Tanjung Priok selesai dalam waktu kurang dari dua bulan.

Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengatakan, usaha membuka jalur kereta api (KA) barang dari dan ke pelabuhan hanya tinggal menunggu pembebasan tujuh bidang tanah lagi. “Butuh waktu pembebasan tanah sebentar. Konstruksinya sendiri dalam waktu dua bulan,” ujarnya. Bila jalur KA ke dermaga Tanjung Priok diaktifkan lagi, dia menjamin kemacetan lalu lintas di pelabuhan akan bisa dipangkas hingga sepertiganya.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Edi Sukmoro mengatakan, perusahaan akan mempercepat pembebasan tanah dan pengaktifan jalur KA tersebut. “Januari bisa masuk. Kita usahakan lebih cepat,” tegasnya.

Dia menegaskan pihaknya dan manajemen PT Pelindo II terus melakukan komunikasi intensif terkait dengan pengaktifan jalur KA ke pelabuhan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pelindo II, Richard Joost lino sebelumnya mengatakan jalur kereta api ke pelabuhan tidak seefisien jalur laut. “Orang lihat menyelesaikan permasalahan kemacetan dengan kereta api. Kalau penumpang iya tetapi bukan barang,” katanya beberapa waktu lalu.

Rizal Ramli juga mengupayakan penaikan tarif penumpukan peti kemas di pelabuhan hingga Rp 5 juta per boks per hari.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here