Pengusaha Logistik Masih Tahan Investasi

0
212
ilustrasi gudang peti kemas (industri.bisnis.com)
ilustrasi gudang peti kemas (industri.bisnis.com)

Jakarta — (suaracargo.com)

Pelaku usaha logistik menilai belum jelasnya penentuan skala prioritas pembangunan dan pengembangan pelabuhan menyebabkan para pengusaha menahan diri untuk melakukan investasi di sektor pergudangan.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zalddy Ilham Masita mengatakan, kementerian Perencanaan Pembangunan/ Bappenas memiliki rencana dan agenda pembangunan pelabuhan yang cukup ambisius, namun masih lemah pada tatanan implementasi.

Kelemahan ini terlihat dari belum adanya skala prioritas untuk membangun 24 pelabuhan yang ditetapkan sebagai lokasi pelabuhan tol laut. “Kan harus jelas langkah-langkan pembangunannya dan untuk apa,” ujarnya, Selasa (27/1/2015).

Menurut Zaldi, sebenarnya pembangunan dan pengembangan pelabuhan dapat dimulai dari daerah-daerah yang memiliki tren pertumbuhan ekonomi dan volume muatan kapal nasional. Daerah-daerah seperti itu antara lain Makassar, Banjarmasin, Palembang.

Penjelasan skala prioritas pembangunan dan pengembangan pelabuhan akan membuat para pengusaha logistik lebih tergerak untuk melakukan investasi yang dibutuhkan, seperti membangun pergudangan. “Sekarang mau investasi tapi pelabuhanya kami belum tahu pelabuhan yang mana.”

Pada sisi lain, dia juga meminta penjelasan pemerintah dari tidak diterbitkannya kejelasan pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Padahal, pelabuhan yang telah dilirik calon investor dari Jepang itu cukup strategis untuk menerapkan menekan biaya logistik, mengingat lebih dekat dengan kawasan industri ketimbang harus menuju Pelabuhan Tanjung Priok. “Cilamaya membuat jalan di Jakarta tidak rusak. Tidak macet. Padahal kontribusi barang di Priok lebih banyak dari Karawang.”

Ketua Umum Indonesia National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan mendukung langkah Kementerian Perhubungan yang tetap ingin melanjutkan pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Menurutnya, Cilamaya sudah melewati studi dan dibahas sejak beberapa tahun terakhir sehingga sudah sepantasnya untuk dilanjutkan agar industri dpat bekerja lebih maksimal. “Pelabuhan Cilamaya sangat strategis mengingat 75% aliran arus barang di Tanjung Priok berasal dari Timur Jakarta dan Jawa Barat.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY