Pengusaha Sambut Baik Rencana Penurunan Harga BBM di Bulan April

0
406
antrean BBM (Mursalin Yasin/republika.co.id)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pemerintah bakal menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar pada awal April mendatang. Namun, besaran penurunan harga tersebut belum bisa dipastikan, yakni berkisar dari Rp 200 hingga Rp 1.000 per liter.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, penurunan harga BBM akan memberikan pengaruh pada penurunan harga logistik. Sebab, harga BBM memiliki peran penting terhadap biaya distribusi.

“Pasti ada pengaruh karena penjualan juga masih lemah permintaannya. Jadi kalau ada penurunan harga BBM pasti akan pengaruh ke harga logistik,” kata Hariyadi ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (27/3).

Meski begitu, pengaruh yang diberikan masih terbilang kecil mengingat penurunan harga BBM tidak lebih dari Rp 1.000. Menurut Hariyadi, penurunan harga logistik akibat penurunan harga tersebut diperkirakan hanya sekitar 0,5 persen.

Dia menilai, hal yang terpenting bagi para pengusaha adalah kemampuan pemerintah meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ikut meningkat.

“Kalau penurunan harga BBM ini hanya menjaga agar harga tidak terlalu tinggi, sedangkan ke pertumbuhan ekonominya tidak ada pengaruhnya. Masalahnya dari segi pergerakan sektor lemah. Pinjaman dari perbankan dibandingkan deposito 90 persen, maka kemampuan bank membiayai sudah mentok,” imbuhnya, seperti dilansir beritaterkini.id.

Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah permintaan. Diantaranya, seluruh deregulasi harus berjalan konsisten, dan kebijakan moneter diubah dari kontraktif ke ekspansif.

“Pemerintah harus mendorong likuiditas, salah satunya dengan tax amnesty. Pemerintah juga perlu memperbesar kapasitas perusahaan untuk melakukan revaluasi aset agar bisa menyesuaikan harga aset dengan harga pasar. Selain itu, semua sektor yang punya potensi untuk meraup devisa harus didorong. Dengan begitu pertumbuhan bisa diatas 6 persen,” jelas Hariyadi.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here