Penumpukan di TPK Koja Sebabkan Peningkatan YOR

0
413
Ilustrasi kegiatan pengangkutan peti kemas di pelabuhan (foto ilustrasi: Istimewa / koran-sindo.com)
Ilustrasi kegiatan pengangkutan peti kemas di pelabuhan (foto ilustrasi: Istimewa / koran-sindo.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Banjir yang sempat melanda DKI Jakarta pekan lalu ternyata masih menyisakan beberapa masalah dalam kegiatan delivery peti kemas dan pengambilan barang di lapangan penumpukan TPK Koja.

General Manager TPK Koja Agus Hendrianto mengatakan, jalan raya yang rusak akibat banjir di sekitar Tanjung Priok sulit dilewati oleh truk pengangkut petikemas. Kesulitan itu yang membuat frekuensi kegiatan pengambilan dan pengiriman petikemas menjadi rendah. Di sisi lain, kata dia, kegiatan pelayanan bongkar muat petikemas dari dan ke kapal berjalan normal sebagaimana biasanya.

“Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan tingkat kepadatan lapangan penumpukan petikemas (yard occupancy ratio),” ujarnya, dalam jumpa pers hari ini, di TPK Koja, Senin (2//2015).

Dia juga menjelaskan, ketika kondisi jalan raya berangsur pulih, para pengguna jasa pelabuhan, terutama para importir, hampir secara bersamaan mulai melakukan pengambilan petikemas (delivery). Akibatnya, kata Agus, di tengah kondisi YOR yang tinggi, kepadatan di area lokasi lapangan penumpukan TPK Koja tak terhindarkan. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya menyebabkan arus ke luar petikemas menjadi terhambat.

“Kami menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pengguna jasa TPK Koja atas ketidaknyamanan yang dialami dalam beberapa hari belakangan ini. Untuk mengurai kepadatan ini, kami telah berkoordinasi dengan pihak Bea dan Cukai untuk menambah jumlah jalur gate out” paparnya, sebagaimana dilansir bisnis.com.

Berdasarkan pengamatan di lokasi, kata Agus, hambatan lain yang dihadapi pengguna jasa TPK Koja adalah kondisi akses keluar dari pelabuhan. Akses yang biasa dilalui yaitu melalui Jl. Dobo, ditutup oleh pengelola proyek pembangunan jalan tol, sehingga kendaraan truk pengangkut petikemas, truk tanki, maupun kendaraan kecil dari arah TPK Koja, PT. Jakarta Tank Terminal, dan dari PT. Graha Segara terpaksa harus keluar melalui Jl. Digul yang mengakibatkan terjadi penyempitan (bottle neck) dan pertemuan arus kendaraan sehingga menyebabkan kemacetan panjang sampai kedalam area TPK Koja. “Kami akan terus mencari dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, dan juga berkoordinasi dengan intansi terkait laiinya guna mengatasi masalah ini”, paparnya.

Akhir pekan lalu, kalangan importir juga sempat mengeluhkan terhambatnya kegiatan delivery peti kemas impor melalui TPK Koja. Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) DKI Jakarta, Subandi mengatakan, hambatan delivery itu terjadi akibat rusaknya salah satu alat transtainer yang berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan peti kemas atau lift on-lift off (Lo-Lo) dari container yard ke truk.

Akibat kerusakan itu, kata dia, kegiatan delivery atau pengeluaran barang impor yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang (clearance pabean) terpaksa tertahan berjam-jam bahkan ada yang sampai tertahan satu hari. “Truk trailer tidak bisa langsung memuat peti kemas impor itu untuk langsung delivery keluar pelabuhan menuju gudang importir maupun pabrik. Hal ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit,” ujarnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here