Penyelundupan Jamu Digagalkan Polisi

0
572
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas Kapolsek KP3 Pelabuhan Tanjung Emas, Kompol Sukiyono tunjukkan tersangka pengirim jamu ilegal, Jumat 3 Februari 2017

Semarang – (suaracargo.com)

Jajaran Polsek Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Tanjung Emas Semarang menggagalkan pengiriman jamu kemasan ilegal yang akan dikirim ke Kalimantan. Jamu-jamu tersebut dikemas menggunakan karung dan akan dikirim menggunakan kapal melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Beberapa merek jamu kemasan yang akan diedarkan yaitu Palu Sakti, Brotowali, Daun Binahong, Obsagi, dan Kulit Manggis. Pada kemasan jamu itu tidak dilengkapi label BPOM maupun Depkes. Tersangka penyelundupan, Mausul mengatakan bahwa jamu tersebut didapatkan di Desa Antasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Jamu itu telah diordernya sebanyak tiga kali.

“Jamu ini mau dikirim ke Kalimantan. Dari Cilacap ke Semarang dikirim lewat travel,” ujarnya, dalam gelar perkara di Mapolsek KP3 Tanjung Emas Semarang, Jumat (3/2).

Mausul mengaku mendapat keuntungan sekitar Rp 200 ribu-Rp 250 ribu setiap melakukan pengiriman. Dari setiap renteng jamu kemasan itu, ia mendapat keutungan sebesar Rp 500 rupiah.
“Saya sudah tiga kali mengirim jamu ilegal. Biasanya saya kirim ke Kalimantan dan Sumatera. Baru kali ini tertangkap,” tuturnya, seperti dilansir tribunjateng.com.

Dinaikkan kapal

Kapolsek KP3 Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kompol Sukiyono menyatakan, pengungkapan kasus itu berawal saat para anggota melakukan patroli. Pengiriman jamu ilegal itu diketahui saat barang akan dinaikkan ke kapal pada tanggal 30 Januari lalu.

“Kemudian petugas mengamankan satu orang bernama Mausul ke Mapolsek. Kasus ini dikembangkan, dan kami menangkap satu orang lagi bernama Turiman. Produsen sedang kami kejar, karena saat kami datangi pabriknya dalam keadaan kosong,” jelasnya.

Sukiyono mengungkapkan, jamu kemasan itu akan dikirimkan ke Sampit, Kalimantan Timur. Jamu yang akan dikirim tidak dilengkapi dengan dokumen. “Di dalam pulau maupun di luar pulau, namanya jamu harus dilindungi Undang-undang dan dilengkapi dokumen,” terangnya.

Hingga kini, pihaknya belum dapat mempredikisi nilai jamu ilegal tersebut. Dari keterangan tersangka, pengiriman jamu dilakukan sejak November 2016. Penjualan jamu itu menyasar masyarakat menengah ke bawah.

“Kemungkinan jamu ini dijual ke pekerja berat. Kedua tersangka dikenakan pasal 197 UU No. 36/2009 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here