Perayaan HUT TNI ke 69, Industri Logistik Terganggu

0
226

Puncak Hari Ulang Tahun  ke 69, TNI yang diadakan hari selasa tanggal 7 Oktober 2014. Upacara  sangat meriah digelar. Dilaksanakan di Dermaga Ujung Komando Armada RI kawasan Timur Surabaya.

Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono pun tampak hadir, lengkap dengan busana militer. Kegiatan tersebut melibatkan  tidak kurang dari 18,580 prajurit dan 526 alustista (alat utama sistem persenjataan).  Hal ini seolah menjadi panggung unjuk kekuatan TNI yang semakin kuat karena kepemimpinan presiden SBY dua periode.

Sebuah pesawat latih terbang membawa sepanduk bertuliskan “Terimakasih Bpk Presiden” melintas didepan ratusan ribu pasang mata. Itulah akhir dari perayaan yang sangat spektakuler tersebut.

Hari itu adalah puncak dari hiruk pikuk Kota Surabaya hampir selama dua  pekan terakhir.  Mobil TNI dan mobil ber plat merah hilir mudik setaiap waktu, menambah kepadatan  Kota Surabaya yang sudah berjejal.  Langit jakarta bertambah bising dengan ragam latihan pesawat tempur. Pelabuhan Tanjung Peraj dan sekitaranya semakin sesak kelebihan beban.

Presiden merasa bangga dengan perhelatan besar ini. “Peringatan hari TNI tahun ini bagi saya pribadi terasa begitu istimewa. Inilah peringatan hari TNI terakhir yang saya hadiri sebagai presiden.” Kata presiden dengan wajah sumringah.

Kebanggaan presiden tentu saja kita amini bersama. Kita pun merasa  bangga menyaksikan  putra putra terbaik bangsa.  Dirgahayu TNI.

Akan tetapi, dibalik kemeriahan acara ulang tahun ini menyisakan sedikit masalah.

Di Tanjung Perak Surabaya arus kapal penumpang tersendat. Terlebih lagi kapal kapal cargo atau kapal barang yang hendak bongkar muat.

Hingga hari selasa tanggal 7 Oktober 2014,  tercatat ada 90 lebih kapal penumpang dan  kapal barang berjubel menunggu antrean  untuk sandar.

Idealnya, untuk pelabuhan Tanjung Perak hanya mampu 60 buah kapal yang bisa menunggu di area pelabuhan. Untuk mengurai penumpukan, paling tidak dibutuhkan 6 hari lamanya untuk kembali normal.

Bahkan,  acara ini menutup akses utama  alur perairan Surabaya dari arah barat. Penutupan selama 6 jam.  Bukan itu saja,  ternyata jalur ini telah mengalami buka tutup hampir seminggu terakhir.

Tersendatnya operasional pelabuhan tentu saja berdampak buruk terhadap industri pelayaran, cargo dan logistik. Dampak negatif ini bukan saja dirasakan pelaku bisnis lokal, akan tetapi juga damapak negatif diraasakan industri  pelayaran internasional.

Penulis tidak memiliki data resmi, berapa kerugian industri akibat penutupan ini. Akan tetapi,  bisa dipastikan bahwa industri yang berhubungan dengna logistik mengalami kerugian.

Kita tentu saja bangga dengan acara acara  seperti ini.  Akan tetapi,  ke depan harus dipikirkan bagaimana caranya agar sebuah perhelatan tidak mengganggu roda ekonomi.  Perlu dicari terobosan agar  sektor industri logistik tidak dikorbankan.

Saya berharap, presiden terpilih Jokowi – JK mencermati hal ini. Terlebih lagi, dalam kampanye sangat jelas dikatakan akan visi misi Indonesia ke depan. Yaitu pengembangan Tol laut dan mimpi besar Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa, sektor logistik di Indonesia adalah “termahal’ dibandingkan negara lain di kawasan Asia, bahkan dunia.  Mahalnya ongkos logistik di negeri ini bisa dibuktikan dengan mudah.  Faktanya, “ongkos angkut jeruk dari Pontianak ke Jakarta lebih mahal dibanding ongkos angkut jeruk dari Shanghai ke Tanjung Priok.”

Ayo kita sama sama memperbaiki negeri ini. Kalau bukan kita, siapa lagi ? Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?

@lambangsarib

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY