Percepat Program Realisasi Tol Laut, Barang Impor Hanya Bisa Masuk Melalui 3 Pelabuhan

0
239
 Ilustrasi kapal pengangkut peti kemas (Kompas.com/Darwiaty H Ambo Dalle)
Ilustrasi kapal pengangkut peti kemas (Kompas.com/Darwiaty H Ambo Dalle)

Jakarta – (suaracargo.com)

Presiden Joko Widodo telah menemukan cara untuk mempercepat realisasi program tol laut. Program ini dianggap harus segera direalisasikan karena sangat strategis dan potensial.

Anggota tim sinkronisasi Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla, Pratikno, menjelaskan bahwa salah satu masalah dalam merealisasikan program tol laut adalah kosongnya kapal peti kemas saat kembali ke Pulau Jawa atau Bali. Kosongnya muatan tersebut membuat biaya pengiriman dari Jawa-Bali ke wilayah lain semakin besar karena harus membayar biaya pergi-pulang untuk satu kali pengiriman.

Cara untuk menyiasatinya, kata Pratikno, adalah dengan memberlakukan penerimaan barang impor hanya melalui tiga pelabuhan yakni Sabang, Belitung, atau Sorong. Dengan begitu, kapal-kapal yang semula membawa muatan kosong saat kembali ke Pulau Jawa nantinya akan harus membawa barang impor tersebut.

“Jadi tidak ada lagi barang impor yang masuk ke Jawa-Bali, sehingga kapal yang ngirim barang ke wilayah bisa dapat muatan saat kembali ke Jawa,” ujar Pratikno saat dijumpai di Jakarta oleh Kompas.com, Selasa (22/10/2014).

Sebagaimana diakui Pratikno, wacana ini tentu akan menimbulkan pro dan kontra karena harga barang impor bakal melejit. Akan tetapi, menurut anggota Tim Transisi tersebut, perlu juga dipertimbangkan manfaat dan efisiensinya yang dinilai lebih besar.

Misalnya, kata Pratikno, dipindahkannya lokasi penerimaan bahan impor akan menghidupkan pertumbuhan ekonomi di wilayah lain di Indonesia. Pratikno juga percaya bahwa cara ini dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri karena akan bisa dijual dengan harga lebih murah.”Justru itu akan membantu produk domestik tumbuh. Industri juga akan berkembang, misalnya industri pergudangan dan lainnya,” kata Pratikno.

Menurut Pratikno, program tol laut akan lama terealisasi jika bertumpu pada sulit dan lamanya membangun banyak pelabuhan di Indonesia. Sebaliknya, program ini dapat segera direalisasikan dengan cara mengubah organisasi penerimaan barang impor.

“Tol laut, sebetulnya kalau dipikir berat ya berat sekali, kalau kita membayangkan kita perlu membangun armada yang banyak, ya bisa lama. Tapi bisa jadi (dilakukan) dengan cara mereorganisasi,” kata Pratikno.

 

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY