Peringati May Day, Buruh JICT Imbau Perbaikan Kebijakan Pelabuhan

    0
    350
    ilustrasi pelabuhan (makassar.bisnis.com)
    ilustrasi pelabuhan (makassar.bisnis.com)

    Jakarta – (suaracargo.com)

    Ketua Serikat Pekerja JICT, Nova Hakim, mengimbau agar kebijakan pengelolaan bisnis dan pembangunan pelabuhan oleh BUMN Pelindo dapat bersinergi dengan unsur pekerja dan pemerintah. “Kita berharap pelabuhan di Indonesia bisa maju dan bersaing dengan pelabuhan sekelas Singapura dan Malaysia. Saat ini JICT telah diakui sebagai pelabuhan petikemas terbaik di Indonesia dan salah satu di Asia. Pengakuan ini dibangun lebih dari satu dekade oleh anak-anak bangsa,” kata Nova, di Jakarta, Jumat (1/5/2015).

    Dia juga menuturkan, sektor publik harus tetap memegang peranan utama dalam pengelolaan pelabuhan dan pemerintah harus memberikan jaminan agar tidak ada masalah di sektor perburuhan. Hal tersebut tercantum dalam UNCTAD 1995 tentang comparative analysis of deregulation, commercializationadn privatization of ports. “Selama ini pengelolaan pelabuhan oleh Pelindo bersifat cross subsidy atau pelabuhan yang untung menyubsisi pelabuhan yang rugi. Sebagian besar pelabuhan masih merugi sehingga konsep ini akan berdampak kepada rasionalisasi pegawai,” ungkapnya.

    Dalam waktu lima tahun terakhir, kata Noval, JICT telah menangani 60 persen ekspor impor Jakarta dan 40 persen untuk nasional. JICT menjadi acuan bagaimana harusnya pelabuhan dikelola secara efisien karena dampaknya sangat besar kepada kemakmuran bangsa ini. “Jangan sampai salah ambil kebijakan seperti yang terjadi tahun lalu ketika wacana JICT akan dijual dengan harga murah. Hal ini juga telah menjadi polemik berkepanjangan di pemerintahan,” ujarnya, seperti dilansir okezone.com.

    Menurutnya, jika pemerintah, buruh, dan swasta serius bersinergi maka pelabuhan-pelabuhan Indonesia bisa bersaing di dunia internasional. “Produktivitas pelabuhan seragam dari barat sampai timur Indonesia dan membangkitkan industri Nusantara. Perusahaan pelayaran pun tidak perlu lagi khwatir adanya backlog (kosong muatan),” pungkasnya.

    Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here