Perlambatan Ekonomi Pengaruhi Ekspor Jogjakarta

0
160
ilustrasi pelabuhan (Foto: Grandyos Zafna/detik.com)
ilustrasi pelabuhan (Foto: Grandyos Zafna/detik.com)

Jogjakarta – (suaracargo.com)

Perlambatan ekonomi masih mempengaruhi kondisi ekspor DIY. Dalam satu tahun, bisa mengekspor lima hingga enam peti kemas dinilai sudah bagus.

Pemilik perusahaan Potteryware Jogja, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri gerabah Endro Wardoyo mengungkapkan, kondisi ekspor komoditas dari DIY pada semester kedua masih lesu. Hal serupa dialami oleh usahanya. Dalam periode yang sama, kondisi ekspor menurun drastis dibandingkan 2014.

“Tahun lalu, rerata setiap bulan bisa kirim satu peti kemas gerabah. Tahun ini, bisa kirim lima sampai enam peti kemas saja sudah bagus,” ujar dia kepada Harian Jogja, Senin (10/8/2015).

Pria yang juga merupakan Wakil Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY ini mengungkapkan, nilai ekspor satu kontainer bisa mencapai Rp70 juta hingga Rp100 juta. Biaya pengapalan yang harus ditanggung perusahaan berkisar antara Rp6 juta hingga Rp8 juta untuk tujuan Negara Timur Tengah seperti Lebanon.

Menurut Berita Resmi Statistik (BRS) yang dikeluarkan Badan Pusat Statisistik (BPS) DIY pada Senin (3/8), nilai ekspor barang asal DIY untuk Juni 2015 mengalami penurunan 5,11% month to month (m to m).

Kepala BPS DIY Bambang Kristianto mengungkapkan, nilai ekspor barang asal DIY selama Juni sebesar Rp335,7 miliar, sedangkan pada Mei sebesar Rp353,8 miliar.

“Secara year on year nilai ekspor bulan ini turun 10,12%. Nilai ekspor Juni 2014 sebesar Rp373,6 miliar,” ujar dia, seperti dilansir bisnis.com.

Ia menambahkan, tiga negara utama tujuan ekspor untuk Juni 2015 adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang yang masing-masing sebesar 41,23%; 12,16%; dan 6,78%. Sementara, perkembangan nilai ekspor terbesar m to m sebesar 232,87% bertujuan ke negara Uni Emirat Arab, sedangkan perkembangan terbesar year on year (yoy) sebesar 56,78% juga bertujuan ke Uni Emirat Arab.

Bambang menjelaskan, ada tiga kelompok komoditas utama dengan nilai ekspor tertinggi pada Juni 2015 yakni pakaian jadi bukan rajutan (45,45%; perabot, penerangan rumah (10,10%), dan barang-barang dari kulit (8,94%). Untuk perkembangan komoditas terbesar m to m adalah barang-barang rajutan yang meningkat 59,91%, sedangkan y o y juga barang-barang rajutan dengan peningkatan sebesar 37,14%.

“Ekspor barang asal DIY pada Juni 2015 sebesar 63,08 persen dikirim melalui Pelabuhan Muat Tanjung Emas, Jawa Tengah,” ujar dia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY