Pertimbangkan Komponen Harga, Pengusaha Belum Respon Penurunan Harga BBM

0
150
Ilustrasi Logistik Foto: Ilustrasi/Istimewa

Samarinda – (suaracargo.com)

Owner Kangaroo Premier, Umry Hasfirdauzy menyatakan, pihaknya belum bisa langsung merespons penurunan harga BBM. Pihaknya masih memerlukan kajian lebih banyak. Pasalnya, harga tiket travel sendiri terdiri dari banyak komponen. Bukan hanya dihitung dari BBM. “Memang komponen penentu harga tiket didominasi BBM. Tapi, perlu diingat, komponen lain juga perlu dipertimbangkan. Seperti harga spare part, harga perawatan kendaraan, nilai UMK (upah minimum kota), nilai unit kendaraan, dan masih beberapa lainnya,” jelas lelaki yang juga merupakan sekretaris BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim itu, seperti dilansir kaltim.prokal.co.

Dia lalu menuturkan, perubahan harga yang tak signifikan tersebut belum bisa langsung membuat pengusaha memutuskan perubahan harga tiket. Perlu ada perencanaan keuangan yang lebih matang. “Saat harga BBM beberapa waktu lalu mengalami kenaikan, kami tak langsung menaikkan harga. Begitu juga saat UMK (upah minimum kota) naik sampai sekira Rp 50 ribu pada 2016, kami juga tak menaikkan harga,” tutur dia.

“Itu akan menyulitkan pengusaha kalau sedikit-sedikit BBM naik atau turun (harga), lalu kami juga mengubah harga. Itu sulit dilakukan. Sebab, bagaimana dengan nasib konsumen yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari, lalu tiba-tiba ada perubahan harga, itu akan merepotkan,” jelasnya.

Harga BBM, lanjutnya, tentu akan mengalami kenaikan atau perubahan setiap tahun. Begitu juga dengan harga spare part. Ditambah lagi, harga sewa kantor travel juga berpotensi mengalami kenaikan. “Belum lagi saat ini pemerintah mau menaikkan target pajak daerah atau target realisasi pajak negara. Tentu akan menaikkan nilai pajak kendaraan dan pajak lainnya. “Bagaimana kami mau menurunkan, kalau pajaknya juga naik. Harga bahan makanan juga sering mengalami kenaikan,” papar dia.

Dia juga meminta pemerintah agar teliti saat mengoreksi setiap harga yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. “Ini PR (pekerjaan rumah) pemerintah mengendalikan inflasi. Apalagi harga makanan. Percuma kalau harga BBM turun, tapi biaya lainnya malah naik. Apalagi penurunan harga BBM cuma Rp 500 saja,” ujarnya.

Ditemui secara terpisah, Ambo Dalle, ketua Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Kaltim, mengatakan kebijakan untuk penyesuaian tarif angkutan darat di Benua Etam masih menunggu Organda Pusat. Ambo menjelaskan, banyak komponen dalam tarif angkutan. Tak hanya bahan bakar. Urusan suku cadang hingga gaji sopir pun masuk hitungan tarif.

“Saat BBM naik, otomatis suku cadang naik. Harga kebutuhan naik, jadi gaji dituntut bertambah. Saat BBM turun, apa harga suku cadang dan gaji mau ikut turun?” tanya dia. Dikatakan Ambo, tarif angkutan bisa saja turun. Namun, perlu dikaji apakah berpengaruh signifikan terhadap komponen lain.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY