Pesan Presiden Jokowi dalam Forum “Kompas”

0
258

Harian Kompas beruntung bisa mendatangkan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan visi dan program ekonominya kepada para chief executive officer dari 100 emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia, Jum’at (7/11). Presiden Jokowi yang baru 18 hari bahkan bersedia untuk berdialog langsung dengan para CEO tersebut. Sebuah awal tradisi yang bagus.

Ada banyak isu yang disampaikan dalam diskusi hangat tersebut, yang mempertontonkan pemahaman Presiden terhadap masalah riil bangsa ini. Sebagai contoh, sering kita mendengar keluhan mengenai biaya logistik. Biaya mengangkut sapi dari Darwin, Australia ke Jakarta jauh lebih murah daripada dari Kupang, Nusa Tenggara, ke Jakarta. Mengapa? itu karena kapal yang mengangkutnya jauh lebih besar sehingga lebih efisien atau dapat mencapai skala ekonomis. Kalau mau bersaing, kapal dari Kupang juga harus tidak kalah besar.

Karena itu timbul ide membangun “tol laut”. Bukan membangun jalan tol di atas laut seperti di Bali, melainkan memperbesar kapasitas pelabuhan dan menambah titik pelayanan pelabuhan di laut utara Jawa sehingga Indonesia terkoneksi dari Medan (Indonesia barat) hingga Makassar (tengah) serta Sorong dan Jayapura (timur).

Skala besar pada kapal dan pelabuhan ini dimaksudkan agar tercapai efisiensi atau mengurangi biaya logistik.Namun, timbul masalah, jika kapal dari barat ke timur dapat diisi penuh muatan, bagaimana dengan rute sebaliknya? Apakah cukup potensi bagian timur memproduksi dan menjual barang ke barat? Itu berarti bagian timur juga harus kegiatan ekonomi yang besar sehingga produknya bisa dijual ke barat. Kata kunci dari persoalan ini adalah investasi di Indonesia timur harus didorong kuat-kuat.

Soal lain adalah disparitas harga. Harga semen di Jawa adalah Rp 60.000 – Rp. 70.000 per zak. Adapun di pedalaman Papua, misalnya di Wamena, harganya bisa 1.5 juta per zak, karena semen harus menempuh perjalana udara dari Jayapura ke Wamena. Tidak ada jalan darat di sana. Biaya pun mahal.

Oleh karena itu, solusi sebenarnya tidak saja soal kapal besar mengangkut semen dari Makassar ke Sorong atau Jayapura, tetapi juga bagaimana merintis jalan darat di sejumlah kota di Papua. Tanpa ada transportasi darat, semen-semen itu tetap saja harus diangkut dengna pesawat perintis.

Solusi lain adalah membangun pabrik semen di Papua. Secara teknis tidak ada masalah. Bahan material semen ada di Papua. Namun dari sisi skala ekonomis, dengan penduduk Papua hanya dua juta orang, apakah layak membangun pabrik semen? Sementara, jika semen dari Papua dijual ke Sulawesi atau Kalimantan, apakah harganya bisa bersaing dengan semen-semen produksi setempat dan dari Jawa? Inilah kompleksitas industri semen di Papua.

Dalam forum tersebut, saya juga melempar isu tentang kondisi jalan di pantai utara (Pantura) Jawa yang setiap tahun selalu rusak dan selalu kewalahan menghadapi arus mudik Lebaran. Kementerian Pekerjaan Umum selama ini selalu berargumentasi bahwa jalan rusak disebabkan spesifikasi jalan daripada kendaraan berat yang melintas. Solusinya mudah: kenapa tidak membangun jalan dengan spesifikasi jauh melebih kendaraan yang melintas di situ? Ini memang mahal. Namun, jika alasannya tak ada biaya, itu bisa ditanggulangi jika pemerintah berhasil merelokasikan sebagian subsidi bahan bakar minyak menjadi belanja infrastruktur.

Sudah saatnya jalur pantura dibuatkan jalan dengan kualitas yang sangat tinggi sehingga tidak mudah rusak gara-gara kendaraan berat mengingat vitalnya jalur ini. Jalur ini memberikan kontribusi besar atas biaya logistik dan inflasi. Jika masalah ini bisa ditanggulangi, bisa jadi inflasi dapat diredam misalnya hingga 0,5 persen per tahun.

Ide membuat tol laut Surabaya – Jakarta sepanjang 700 kilometer sebenarnya masuk akal. Dengan pengalaman membangun 12 kilometer tol Laut di Bali dengan seharga “hanya” 2.7 triliun, bisa diproyeksikan harga tol laut Jakarta – Surabaya di bawah 200 triliun. Ini bahkan lebih murah daripada biaya Jembatan Selat Sunda Rp. 250 triliun, dengan manfaat ekonomi yang tidak kalah besar.

Isu lain adalah soal subsidi BBM yang sangat besar. Jika tidak dikendalikan, subsidi BBM mencapai Rp 263 triliun pada tahun 2015, yang berarti lebih besar daripada anggaran infrastruktur Rp. 206 trililun. Lebih buruk lagi, subsidi BBM pasti lebih salah sasaran. Studi IMF (2010) menunjukkan subsidi BBM dinikmati orang berpendapatan menengah ke atas yang memiliki mobil. Jumlah mereka diperkirakan 70 persen.

Memang akhir-akhir ini harga minyak mentah sedang turun karena kombinasi antara melemahnya permintaan dan meningkatnya pasokan. Harga minyak Brent sekarang di bawah 90 dollar AS per barrel (sebelumnya di atas 100 dollar AS). Namun, karena para produsen minyak anggota OPEC masih dominan menguasai pasar, diduga mereka akan menekan produksi sehingga harga kembali di atas 90 dollar AS.

Pertumbuhan perekonomian AS yang diperkirakan di atas 3 persen dan Tiongkok yang menargetkan tumbuh di atas 7,5 persen tahun 2015 diduga juga akan mendorong pmerintaan. Atas dasar itu, harga BBM tetap perlu dinaikkan. Hanya saja, kenaikan tidak perlu sampai Rp. 3.000 per liter. Kenaikan Rp. 2.500 per liter barangkali cukup agar inflasi 2014 tetap terjaga di level 7 – 7,5 persen. Suka bunga tidak perlu dinaikkan lebih lanjut sehingga tidak memberikan tambahan tekanan pada likuditas di sektor finansial.

Presiden Jokowi kini berada di Tiongkok untuk pertemuan APEC di Beijing. Dari negeri berpenduduk 1,36 miliar itu, kita bisa belajar bahwa harga BBM mereka tidak disubsidi, yakni Rp 16.000 per liter. Akibatnya, pemerintah punya cukup dana melindungi daya beli penduduk miskin (90 juta hingga 200 juta per orang) melalui transfer tunai. Menaikkan daya beli kelompok miskin akan menggulirkan multiplier effect, yang bisa membantu pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, membangun infrastruktur seara masif dan melindungi kelompok miskin adala dua tujuan mulia yang hendak kita capai lewat kebijakan relokasi subsidi BBM.

A. Tony Prasetantono
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Unviersitas Gadjah Mada

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY