Petugas Gagalkan Penyelundupan 100 Satwa Langka dari Papua

0
361

Surabaya – (suaracargo.com)

Sebanyak 100 ekor satwa dilindungi asal Papua yang diselundupkan melalui jalur laut, berhasil digagalkan petugas Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jumat (24/2). Satwa itu terdiri dari 40 ekor bayan, 9 ekor nuri, 8 ekor gagak, 7 ekor queen, 5 ekor kakatua jambul kuning, 4 ekor kanguru walibi, 9 ekor nuri kepala hitam, 6 ekor burung cenderawasih, 7 ekor Jagal, 3 ekor landak dan kakatua raja serta bimoli masing-masing satu ekor.

“Satwa liar yang dilidungi itu diselundupkan oleh anak buah kapal (ABK) Kapal Motor (KM) Spill Vertikal dan KM Temas Gulf Mas yang sudah ditunggu penadahnya di Surabaya,” ujar Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Ronny Suseno, kemarin sore. Kedua ABK dan tiga orang penadahnya yang sedang menunggu di pelabuhan, berhasil diamankan dan kini sedang dalam pemeriksaan.

Pengungkapan kasus penyelundupan satwa dilindungi dari Papua ke Surabaya itu berawal dari masuknya informasi, bahwa tersangka Wnt, ABK KM Temas Gulf Mas sedang lego jangkar di Karang Jamuang, pintu masuk Pelabuhan Tanjung Perak yang berada di mulut Selat Madura sisi barat.

Di Karang Jamuang itu Wnt melakukan transaksi satwa dengan penadah di atas kapal. “Petugas yang melakukan pengecekan di kamar kapal Wnt menemukan satwa berbagai jenis yang dilindungi tanpa dilengkapi dokumen,” ujar Ronny, seperti dilansir beritasatu.com.

Dari KM Temas Gulf Mas, petugas mengembangkan penanganan dan ada satwa lain yang sudah masuk ke Pelabuhan Nilam Tanjung Perak yang di bawa KM Spill Vertikal, oleh ABK Atn. Selain menangkap dua ABK kapal, petugas juga menangkap tiga orang tersangka penadahnya yakni Ajr, Hlm dan Sbr warga Surabaya. Menurut pengakuan sementara, satwa-satwa langka yang dilindungi itu akan diperdagangkan di wilayah Surabaya dan bahkan sudah ditungu pemesan.

Menurut Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKP Ardian Satrio yang mendampingi AKBP Ronny Suseno menambahkan, KM Temas dan KM Spill Gulf Mas ternyata bukan hanya kali ini saja membawa satwa dilindungi.

“ABK KM Temas sudah enam kali, sedangkan ABK KM Spill Vertikal sebanyak tujuh kali. Atas tindak kejahatan tersebut, polisi menjerat kelima tersangka dengan pelanggaran UU RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Dari catatan SP, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Mei 2015 juga pernah menangkap seorang tersangka pelaku asal Mojokerto, berinisial BT. BT menyelundupkan 1.005 ekor burung kakatua jambul kuning dari Papua dan Maluku ke Jawa Timur. Di antara barang bukti yang disita dari tangan tersangka, beberapa di antaranya kedapatan mati karena dimasukkan dalam botol plastik air kemasan isi satu liter.

Kasus penyelundupan kedua kembali dibongkar pada November 2015 dengan menyita 200 ekor burung yang sama dari atas KM Satya Kencana yang bersandar di Dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Barang bukti burung langka itu diamankan ketika sebuah truk yang hendak keluar membawa barang angkutan, ditemukan kardus-kardus yang berisi ratusan burung asal Papua tanpa dilengkapi selembar pun dokumen.

Satreskrim Polres Tanjung Perak pada April 2016 menyita 34 ekor burung langka dan dilindungi dari Papua, terdiri dari seekor cenderawasih kepala biru, 3 ekor cendrawasih ekor panjang, 6 ekor kakaktua jambul kuning, 10 ekor kakaktua hijau, 11 ekor kakaktua merah dan 3 ekor burung julangmas.

Tersangka pelaku penyelundupan bernama CA, warga Jalan Wonokusumo Lor Surabaya dan temannya Sol keduanya penumpang KM Gunung Dompo dari Sorong tujuan Surabaya. Dari 34 ekor burung yang dilindungi undang-undang itu delapan di antaranya mati.

Dari pengakuan keduanya, polisi memperoleh informasi burung-burung langka itu dibeli dari tangan FH di Sorong. Menurut rencana burung langka itu akan dijual ke tangan pemesannya WA di Jakarta. Dari beberapa kali penangkapan, menurut Kasat Reskrim, biasanya burung-burung itu dititipkan di kamar ABK dengan membayar sewa kamar. Ada pula yang dibawa dengan kapal-kapal barang namun kemudian di tengah laut mereka turun dan pindah menggunakan kapal-kapal kecil (nelayan) menuju pantai.

Lembaga Protection of Forest and Fauna (ProFauna) Indonesia di Malang, Rosek Nursahid berharap pelabuhan di daerah-daerah di seluruh Indonesia mesti melakukan pengawasan serta kontrol ketat terkait penyelundupan satwa, sehingga kedepan perlu meningkatkan pengamanan pelabuhan dari lalu lintas penyelundupan satwa liar maupun barang terlarang lainnya. Ia menyayangkan, pemeriksaan barang bawaan ABK dan penumpang kapal hanya waktu naik (kapal) saja diperiksa dengan sinar-X, tetapi begitu turun, tidak ada pemeriksaan dengan sinar-X.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here