Potensi Pelabuhan di Indonesia Dinilai Belum Tergali

1
600
Pelabuhan Yos Sudarson, Ambon. (ANTARAFOTO/izaac mulyawan)
Pelabuhan Yos Sudarson, Ambon. (ANTARAFOTO/izaac mulyawan)

Depok – (suaracargo.com)

Meskipun dianggap sebagai tempat transit yang strategis bagi transportasi laut internasional, pelabuhan-pelabuhan di Indonesia dinilai belum bisa memanfatkan potensi tersebut. Di Selat Malaka, yang notabene dilewati 70 persen pelayaran dunia, kapasitas pelabuhan-pelabuhan nasional Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Malaysia dan Singapura.

“Kita tidak bisa memanfaatkan sebagai pelabuhan transit yang baik,” ujar Ketua Komite Tetap Bidang Maritim dan Pesisir Kadin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Haryo dalam seminar bertajuk Akselerasi Pembangunan Negara Maritim di Depok, Rabu (17/12/2014), sebagaimana dilansir metrotvnews.com.

Padahal, Bambang melanjutkan, Indonesia memiliki panjang pantai sekitar 2/3 dari keseluruhan panjang pantai di Selat Malaka. Namun, pelabuhan-pelabuhan yang ada di sisi timur Pulau Sumatera tidak mempunyai daya tampung yang besar. Pelabuhan Belawan di Medan hanya 1,2 juta Teus per tahun, Pelabuhan Malayahati di Aceh sebesar 180 ribu Teus, dan pelabuhan Batuampar Batam di Riau hanya 230 ribu Teus.

Bandingkan dengan satu pelabuhan Singapura yang bisa memuat hingga 35 juta Teus dan tiga pelabuhan di Malaysia yakni Port Klang, Pelabuhan Tanjung Pelepas, dan Pelabuhan Penang yang bisa menampung sekitar 25 juta Teus. “Sedangkan Indonesia tidak lebih dari 1,5 juta Teus yang bisa diserap dari kapal-kapal yang lewat di situ,” tuturnya.

Bambang mengungkapkan, kendalanya antara lain terkait infrastruktur, sumber daya manusia, dan manajemen kepelabuhan yang belum siap dalam menyediakan pelayanan yang aman dan murah. Di sisi lain, kedalaman pelabuhannya hanya berkisar 9,5 meter.

Padahal di Malaysia dan Singapura berkisar 18-20 meter. Alhasil, kapal-kapal besar sulit merapat. Padahal potensi pelabuhan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi cukup besar. Singapura misalnya, dari PDB sekitar Rp3 ribu triliun sebesar 15 persennya didapat dari pelabuhan transit.

“Bayangkan, Rp450 triliun itu banyak. Itu yang harus dikejar. Indonesia masih punya peluang,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, pelabuhan di wilayah pesisir timur Sumatera tidak masuk prioritas poros maritim. Padahal pemerintah berencana membangun 24 pelabuhan baru.

Akan lebih baik, dia menambahkan, pemerintah fokus mengembangkan pelabuhan internasional dari 141 pelabuhan menjadi 11 pelabuhan. Di antaranya Aceh, Medan, Batam, Bangka, Jakarta, Surabaya, Makassar, Bitung, Sorong, Kupang, dan Mataram.

Bahkan, Bambang menyebut, proyek pembangunan 24 pelabuhan baru tidak tepat sasaran. Dia pun menilai, program tol laut hanya orientasinya pada proyek. “Hanya buang-buang uang saja jadi tidak ada manfaatnya. Saya katakan seperti itu, mari kita diskusikan kalau misalnya mereka (pemerintah) tidak terima dengan pernyataan saya,” katanya.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko Wuryanto mengungkapkan, Indonesia semestinya bisa memetik manfaat lebih sebab negara ini merupakan persimpangan jalur pelayaran dari berbagai negara di dunia. Namun, justru Malaysia dan Singapura yang lebih banyak menikmati hasilnya. “Indonesia masih banyak dikadali, dari Malaysia dan Singapura,” tukasnya.

Oleh karena itu, dia mengungkapkan, infrastruktur kemaritiman perlu dibenahi, industri kapal dikembangkan dan efisien pelabuhan ditingkatkan. Pengembangan pelabuhan juga mesti diiringi dengan pengembangan kawasan industri yang terintegrasi.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here