Praktisi dan Pakar Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia (SCI) Jelaskan Kekurangan dan Kelebihan Kanal Pelabuhan

0
321
ilustrasi pelabuhan (koran-sindo.com)
ilustrasi pelabuhan (koran-sindo.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Praktisi dan Pakar Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia (SCI) Anang Hidayat menilai pengangkutan kontainer menuju pelabuhan melewati jalur kereta lebih murah dibandingkan kanal.

Kereta akan ditenagai oleh listrik, sementara kapal tongkang cenderung menggunakan bahan bakar minyak. Sebelumnya, PT Pelabuhan Indonesia II berjanji akan menggunakan tongkang yang ramah lingkungan dengan bahan bakar LNG.

Namun, jelasnya, jalur kanal memiliki keunggulan karena tidak harus berhadapan dengan jalur komersial seperti pada rel kereta.

“Kalau pakai kereta kan dia pakai jalur komersial, bukan pakai khusus kargo sehingga dia mengikuti jadwal komersial. Kan kalau utama di komersial kan penumpang sehingga kargo akan menjadi opsi ke sekian,” jelasnya, Rabu (9/9/2015)

Selanjutnya, kereta lebih memakan tempat karena untuk membawa 40 unit kontainer akan memerlukan ruang rangkaian sepanjang 400 meter. Sedangkan satu unit kapal tongkang bisa mengangkut 40 unit kontainer.

Kereta memiliki keunggulan lagi, paparnya, yaitu dari segi waktu kereta menawarkan kecepatan. Sementara, kapal tongkang dengan kecepatan 12 knots membutuhkan 2 jam sampai 3 jam untuk sampai ke pelabuhan atau sebaliknya.

“Kalau kereta bisa satu jam saja. Tapi frekuensinya, kereta bisa sanggup berapa. Kalau barge mungkin sehari bisa tiga kali. Kereta maskimum sehari dua kali dengan mencuri waktu komersial,” terangnya, seperti dilansir bisnis.com.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa pembangunan kanal di Cikarang itu harus dibarengi dengan pengembangan depo kontainer oleh agen pelayaran. Pengusaha trucking, menurutnya, juga mesti berinvestasi lagi untuk memadai mobilisasi pengangkutan kontainer

“Untuk kondisi ekspor tetap butuh ekspor karena kontainer kan tidak bisa berjalan gitu saja. Pengusaha trucking juga mesti merelokasi terminal, depo penumpukan kontainer mesti dimobilisasi kesana. Kalau ini baru efisien,” jelasnya.

Seperti diketahui, Pelindo II tengah membangun kanal CBL dengan lebar 70 meter yang bisa dilewati dua unit kapal tongkang. Satu unitnya memiliki kapasitas 72 TEUs-144 TEUs.

Sementara itu, PT KAI akan menyelesaikan pembangunan rel masuk sepanjang 2 km ke Pelabuhan Tanjung Priok pada Februari 2016. SCI menilai pembangunan jalur kereta api Stasiun Pasoso ke Pelabuhan Tanjung Priok akan berdampak signifikan terhadap logistik nasional dengan volume ekspor impor yang diangkut sekitar 65%

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here