Presiden Kunjungi JICA Untuk Percepat Pembangunan Pelabuhan Patimban

0
355
Pelabuhan Patimban (jurnas.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini telah melakukan pertemuan dengan Presiden Japan International Cooperation Agency (JICA) Shinichi Kitaoka. Pertemuan ini dilakukan sebelum Jokowi bertemu dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Pada pertemuan ini, terdapat beberapa proyek yang menjadi fokus pembahasan dari pemerintah. Beberapa di antaranya adalah proyek Pelabuhan Patimban di Subang, mass rapid transit (MRT) Jakarta dan kereta cepat Jawa Utara atau Jakarta-Surabaya.

Khususnya proyek Pelabuhan Patimban, Jokowi meminta agar proyek ini lebih cepat dibangun. secara Sebab, pembangunan proyek ini akan memberikan efek multiplier bagi perekonomian Indonesia. “Presiden minta dikelola dengan prinsip baik dan percepatannya,” kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Selain itu, pertemuan ini juga turut membahas tentang proyek infrastruktur sektor transportasi lainnya. Menurut Sri Mulyani, Presiden JICA mengatakan bahwa transportasi di Jakarta sudah sangat macet sehingga percepatan pelaksanaan proyek menjadi sangat penting.

“Presiden enggak bahas khusus, ini harus dilakukan secara baik dan cepat sehingga bermanfaat. Patimbang juga sama,” ujarnya. Proyek Tol Lintas Sumatera juga turut dibahas dalam pertemuan ini. Namun, JICA masih akan melakukan kajian terkait keikutsertaan dalam proyek ini. “Tol secara khusus di Sumatera kan ini panjang utara ke selatan. Pendanaannya ga bisa satu sumber. APBN sudah, penyediaan tanah menggunakan LMAN kita sudah BUMN dan privat. Kalau dia berniat menbiayai Tol Sumatera,” ujarnya, seperti dilansir okezone.com.

Kebijakan pinjaman juga turut diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Menurut Sri Mulyani, diharapkan setiap proyek berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan dapat mencampurkan pendanaan yang digunakan dari APBN dan BUMN, secara secara bilateral dan dengan pihak swasta. “Kan ada dua policy loan. Ada tight, lebih murah 0%, 0,25%, 0,1%, jangka waktu panjang sekali, jadi hampir kayak uang gratis. Artinya mereka harus pakai supplier mereka. Kalau untight, bebas, kontraktor siapa aja, suku bunga relatif lebih tinggi. Bisa 0,6%. 1,2% bisa. Tergantung proyeknya,” tukasnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here