Presiden Resmikan Pelabuhan Senilai Rp47,31 M di Belitung

0
345
ilustrasi pelabuhan (detik.com)
ilustrasi pelabuhan (detik.com)

Belitung – (suaracargo.com)

Pagi ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta beberapa menteri Kabinet Kerja meresmikan Pelabuhan Tanjung Batu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pelabuhan yang dibangun sejak tahun 2004 dan selesai tahun 2011 itu menelan dana Rp 47 miliar. “Saya berharap pelabuhan ini akan memperkuat perekonomian di sini, juga membuka akses lebih luas ke daerah ini, serta menjadikan sebagai destinasi pariwisata,” kata Jokowi, Sabtu (20/6/2015), sebagaimana dilansir okezone.com.

Selain dibangun di jalur yang cukup strategis yaitu berada di garis ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia, pelabuhan ini memiliki banyak fasilitas pendukung. Apa saja fasilitas yang ada tersebut dijelaskan Menteri Perhubungans (Menhub) Ignasius Jonan. “Kapasitas angkutnya (dermaga) untuk kapal 10.000 DWT (deadweight tonnage),” kata Jonan saat ditemui di Hotel Aston, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (20/6/2015).

Jonan mengatakan, kapasitas dermaga nantinya akan dibangun jauh lebih besar dari yang ada saat ini. Pelabuhan ini mampu menampung kapal berbobot maksimal 10.000 DWT. Proses pengembangan pelabuhan itu akan dilakukan secara bertahap.

“Kenapa nggak sampai 30.000 DWT? Ini kan baru mau diresmikan, Kalau memang diperlukan ya kolamnya dibikin lebih dalam, kalau sekarang kan 8 meter. Kalau mau sampai kapal ukuran 50.000 DWT ya bisa dibuat nanti sampai kedalaman 15 meter. Kalau 15 meter bisalah nanti, bahkan sampai ukuran 100.000 DWT, jadi sementara hanya kapal-kapal kecil antar pulau dulu,” tuturnya, seperti dilansir detik.com.

Pelabuhan Tanjung Batu juga memiliki area kontainer logistik dengan luas 279 hektar. Luas zona pelabuhan dan fasilitasnya 100 hektar dan zona pergudangan dan peti kemas 279 hektar. Pelabuhan itu juga dilengkapi terminal penumpang dengan ukuran 304 meter persegi. Fasilitas pendukung lain yang disediakan adalah terminal general cargo, batu bara, dan terminal khusus CPO.

Nantinya ke depan, khususnya di sekitar pelabuhan, akan dikembangkan zona ekonomi seluas 143 hektar, zona industri 500 hektar, dan zona pengolahan ekspor seluas 484 hektar. “Kalau 10.000 DWT ini kapal-kapal antar pulau bisa masuk. Jadi bisa untuk perdagangan antar pulau. Kalau kapal internasional ya masih harus dikeruk lagi,” tukas Jonan.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here