Program Tol Laut akan Geser Perdagangan Indonesia ke Wilayah Timur

0
283
infografis Tol Laut (Pontianak Post)

Jakarta – (suaracargo.com)

Program tol laut akan menggeser perdagangan di Indonesia, yang selama berpusat di pulau Jawa, ke daerah-daerah lain, termasuk Kalimantan. Kondisi ini diamini Kepala Staf Presiden Teten Masduki. Teten mengatakan bahwa selama ini mayoritas perdagangan, baik ekspor maupun impor, menggunakan pintu Jawa dan Sumatera yang ada di bagian barat Indonesia. ”Nanti pintu itu kami geser ke (Indonesia, Red) timur,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/4).

Teten mengakui, dibutuhkan waktu untuk menjadikan wilayah timur sebagai pintu ekspor. Sebab, industri harus dikembangkan terlebih dahulu. Karena itu, target jangka pendek adalah menjadikannya sebagai pintu impor. ”Ini sudah diusulkan ke presiden (Jokowi, Red),” katanya.

Untuk menggapai target itu, pemerintah kini tengah menyusun payung hukum yang akan mengatur agar impor beberapa komoditas tertentu tidak boleh masuk ke pelabuhan di kawasan Indonesia Barat, melainkan harus masuk melalui pelabuhan di kawasan Indonesia Timur. ”Misalnya, impor sapi, tekstil dan produk tekstil, serta beberapa komoditas lainnya,” ucap pria yang lama berkecimpung sebagai aktivis antikorupsi itu.

Menurut Teten, skema perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) memang membuat Indonesia tidak bisa menolak impor produk-produk dari negara yang sudah meneken perjanjian FTA. Padahal, arus barang melalui kawasan Indonesia Barat seperti Batam dan Jakarta sudah sangat padat.

Selain itu, karena masuk dari wilayah barat, ketika kemudian didistribusikan ke wilayah timur, barang-barang menjadi lebih mahal. Karena itu, menggeser pintu masuk impor ke wilayah timur ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui. Yakni, mengembangkan wilayah timur sekaligus membuat harga produk di wilayah timur menjadi lebih murah. ”Ini target yang kami bidik,” ujarnya, seperti dilansir Pontianak Post.

Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Saut Gurning mengatakan, kebijakan intervensi perdagangan internasional bisa menjadi instrumen efektif untuk menggerakkan perekonomian di Indonesia Timur. ”Syaratnya, infrastruktur transportasi laut harus tersedia,” katanya.

Langkah itu sekaligus merespons pergeseran kekuatan ekonomi dunia yang dahulu berada di barat, khususnya Eropa, melintasi Samudra Atlantik. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, negara-negara di sepanjang Samudra Pasifik –yang dimotori Jepang, lalu diikuti Korea Selatan serta Tiongkok– menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Di bagian Pasifik lainnya, negara di Amerika Latin mulai menggeliat untuk mengikuti negara yang sudah maju seperti Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Bitung bisa menjadi simpul perdagangan internasional untuk wilayah Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara. ”Wilayah ini sangat strategis dalam konteks kerja sama ekonomi ASEAN,” ujarnya.

Namun, upaya menjadikan Indonesia Timur sebagai pintu masuk perdagangan internasional sejak 2012 belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Sebab, prasyarat menuju target itu memang belum dikembangkan dengan baik. Misalnya, pelabuhan yang memadai, kapal yang melayani trayek secara reguler, serta infrastruktur pendukung lainnya. ”Di sinilah peran strategis tol laut sebagai pilar transportasi,” ujar Teten.

Menurut Teten, tol laut bisa menjadi urat nadi yang menyuplai darah perekonomian bagi wilayah terluar dan terdepan yang selama ini belum terlayani dengan baik. ”Agar ekonomi bergerak, butuh suplai bahan bangunan, bahan pangan, dan kebutuhan strategis lain secara teratur dengan harga terjangkau,” katanya.

Dari situlah, pembangunan akan menjalar lebih cepat. Mulai pembangunan kawasan industri, kawasan ekonomi khusus (KEK), jalan raya, hingga sarana pendidikan untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di daerah.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY