PT Cikarang Inland Port Resmi Garap Fasilitas Pusat Logistik Berikat Untuk Komoditas Kapas di Cikarang, Jawa Barat.

0
284
Cikarang Dry Port. (Foto: Jababeka)

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Cikarang Inland Port (Cikarang Dry Port) dengan Gerbang Teknologi Cikarang (GTC) resmi menggarap fasilitas pusat logistik berikat (PLB) untuk komoditas kapas dengan gudang seluas 11.960 meter persegi di Cikarang, Jawa Barat.

Noor Yusuf, Direktur PT Cikarang Inland Port menyatakan, paket kebijakan ekonomi II akhirnya bisa membantu Indonesia menjadi hub logistik di Asia Pasifik, khususnya untuk komoditi kapas dan industri tekstil. Selama ini, pelaku usaha melalui hub dari Malaysia atau negara asal. Padahal volume kebutuhan kapas di Indonesia bisa mencapai 700 ribu ton per tahun.

“Biaya inventory selama ini terlalu besar. Jika membeli komoditi dari luar dan biayanya besar, ini buyer yang skalanya medium tidak akan bisa jadi dia membeli dari orang tengah maka harganya menjadi tak terkontrol”, papar Noor Yusuf kepada Bisnis, Kamis (10/3/2016).

Saat ini CDP tengah membangun gudang kapas seluas 4 hektare di atas lahan 8 hektare. Tahap pertama seluas 1 hektare diharapkan selesai pada Agustus 2016 dengan nilai investasi total sebesar Rp160 miliar.

Selama ini, pengadaan impor kapas Indonesia masih didominasi impor langsung shipper dari luar negeri sekitar 60% lalu 30% di gudang Malaysia. Sisanya yang 10% berasal dari retailer yang melakukan impor untuk dijual lagi. PLB kapas yang dikelola CDP ini membuat Noor Yusuf optimistis akan memindahkan gudang kapas Malaysia ke Indonesia sehingga menekan biaya logistik, transportasi, dan pergudangan.

“Nilai investasi sih hanya untuk luas tota 1,1 hektar, sementara gudang hanya sekitar 5000 meter persegi, harga infrastruktur normal saja harga bangunan Rp4 juta sampai Rp5 juta per meter persegi. Ini sekitar 5000 meter persegi, mungkin sekitar Rp25 miliar”, terangnya.

Noor mengakui trader yang sudah berdiskusi dengan CDP sekitar lima perusahaan. Tahun ini CDP menargetkana dua trader dari Amerika dan Eropa. Rencananya CDP tak hanya akan melayani komoditas kapas, dia juga akan membuka komoditas lain masuk PLB. Oleh sebab itu pihaknya akan mengevaluasi kinerja PLB tahun ini sebelum melakukan ekspansi di tahun yang akan datang.

“Bisa saja nanti masuk untuk industri kulit, atau susu, seperti makanan minuman, kami prospek yang kira-kira bisa menjadi row material dari industri kita”, tambahnya.

Managing Director CDP Benny Woenardi menyatakan, pengelola PLB kapas ini akan memutus rantai calo impor kapas yang memberatkan industri TPT nasional. Benny menegaskan hal terpenting untuk industri tekstil ini adalah kepastian rantai pasokan kapas guna meningkatkan daya saing, memacu investasi baru, dan membuka lapangan kerja baru.

“Semua ini sesuai dengan komitmen kami untuk memperbaiki kondisi logistik dan supply chain nasional dalam menghadapi persaingan global era MEA”, ujar Benny.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here