PT KAI Daop 2 Bandung Mulia Operasikan KA Barang RNE-2

0
237
Ilustrasi Rangkaian Kereta Barang - tribunnews.com

Purwakarta – (suaracargo.com)

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung mulai mengoperasikan kereta angkutan barang Richmount Northern Express (RNE) 2. RNE 2 nantinya akan melayani rute Stasiun Indro (Gresik)-Cibungur (Purwakarta) – Gedebage (Bandung).

Peresmian pengoperasian RNE 2 ini berlangsung di terminal peti kemas (TPK) Cibungur, Purwakarta, Kamis (16/3/2017). Pengoperasian RNE 2 ini terealisasi berkat kerjasama antara PT KAI Daop 2 Bandung dengan PT Richmount Agro Chem.

Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung Joni Martinus mengatakan untuk uji coba kali ini, RNE 2 akan mengantar pupuk milik PT Pupuk Kujang Cikampek menuju terminal bongkar muat Indro (Gresik) dengan jarak tempuh 649,573 kilometer.

“Dalam sekali perjalanan diangkut sebanyak 840 ton atau setara dengan 40 TeUS menggunakan 20 gerbong datang,” kata Joni usai peresmian.

Setelah uji coba pengoperasian ini, nantinya RNE 2 akan beroperasi setiap hari Kamis dan Senin pukul 11.30 WIB untuk keberangkatan dari TPK Cibungur – Stasiun Indro. Sementara dari Stasiun Indro – TPK Cibungur berangkat pukul 17.55 WIB.

“Total waktu tempuh mencapi 14 jam setiap perjalanannya. Saat sampai di Stasiun Indro, RNE 2 akan mengangkut semen milik PT Semen Indonesia,” jelas dia.

Pengaktifan kembali TPK Cibungur setelah 20 tahun ‘mati suri’ merupakan sinergi antara PT KAI dengan pelaku usaha dalam mendukung perekonomian Indonesia dengan memudahkan pendistribusian arus barang kebutuhan pembangunan.

“Dengan adanya angkutan barang ini, distribusi barang menjadi lebih cepat, tentu saja bebas kemacetan, mengurangi polusi dan beban jalan raya,” ungkap Joni.

Direktur Utama PT Richmount Agro Chem Ali Safek mengatakan dengan keberadaan kereta angkut barang RNE 2 ini tentunya distribusi barang akan lebih efisien. Tidak hanya efisensi soal waktu, tetapi juga efisiensi biaya pengiriman barang.

“Kalau kami hitung-hitung efisiensi biaya distribusi menggunakan kereta sekitar 30 persen dibandingkan menggunakan truk,” kata Ali.

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam penyedia jasa distribusi barang, kata dia, keberadaan RNE 2 sangat menguntungkan. Pasalnya pengiriman barang berupa semen, pupuk, atau logistik lainnya bisa dilakukan dengan lebih cepat.

“Akhirnya kebutuhan masyarakat juga bisa lebih cepat terpenuhi. Menghindari kemacetan juga, kebayang kalau 840 ton pakai truk, kan lebih banyak beban di jalan rayanya,” ujar Ali.

Jalan Semakit Padat, Distribusi Logistik Pakai Kereta Lebih Efektif

Peran kereta api logistik (kalog) dalam pendistribusian logistik skala besar di Indonesia masih minim. Padahal, distribusi logistik menggunakan kalog dinilai lebih efisien dibandingkan menggunakan kendaraan besar (truk)

Direktur Operasi dan Pemasaran PT Kalog, Sugeng Priyono, mengatakan baru 2% perusahaan atau pelaku usaha yang menggunakan jasa kerata api untuk mengirim barang. Angkutan darat seperti truk masih menjadi primadona.

“Baru 1,7-2% yang menggunakan jasa kalog. Paling bantar untuk KA baru 120 TiUs, masih kecil sekali,” kata Sugeng usai peresmian kalog rute Gresik – Purwakarta – Bandung di Stasiun Cibungur, Purwakarta, Kamis (16/3/2017).

Menurutnya, pengiriman barang menggunakan kalog akan lebih efisien dibandingkan truk dalam berbagai aspek. Mulai dari pembiayaan pengiriman, kecepatan waktu hingga, beban logistik yang didistribusikan. Hanya dengan satu lokomotif bisa mengangkut 1.200 ton logistik.

Apabila dibandingkan dengan truk, kata dia, beban logistik 1.200 ton akan membutuhkan ratusan truk berukuran besar. Keberadaan truk-truk pengangkut barang yang besar dan berat itu tentunya menyebabkan kemacetan dan kerusakan jalan.

“Sebenarnya kalog ini merupakan solusi distribusi barang yang efisien. Tentunya ini bentuk kepedulian kami terhadap lifetime infrastruktur di jalan raya dan mengurai kemacetan yang ada,” ungkap Sugeng.

Dengan begitu, kata dia, pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menggunakan jasa kalog dalam hal distribusi. Pihaknya menargetkan beberapa tahun ke depan, pengoperasian kalog capai 4%.

“Minimal nanti bisa mencapai empat persen lah. Saat ini ketersediaan lokomotif bisa memenuhi itu, tinggal bagaimana pihak yang ingin bekerjasama,” kata dia, seperti dilansir Detik Finance.

“Cita-cita kami, suatu saat distribusi barang itu lewat rel saja, tapi ini butuh waktu. Karena KAI juga belum siap dari sisi sarana prasarana, kita akan menyesuaikan kebutuhan nantinya,” menambahkan.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY