PT KAI Hentikan Operasional Stasiun Tanjung Priok, Penumpang Dialihkan ke Stasiun Senen

0
243
Stasiun Tanjung Priok (wikipedia.org)
Stasiun Tanjung Priok (wikipedia.org)

PT Kereta Api Indonesia berencana menghentikan operasional Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, mulai hari Sabtu (25/10). Lokasi pemberangkatan dan kedatangan penumpang, menurut Kepala Humas KAI Daop I Jakarta, Agus Komaruddin, akan dipindahkan ke stasiun Senen.
Kepala stasiun Tanjung Priok, Mochammad Ridwan Subarkah, menambahkan bahwa jumlah penumpang yang berangkat dan turun di stasiun yang terletak di Jakarta Utara itu sangat kecil. Untuk selanjutnya, kata Ridwan, Stasiun Tanjung Priok akan difungsinkan untuk mendukung operasional kereta barang. Menurut Ridwan, sebagaimana dilansir dari harian Kompas, perjalanan kereta barang cenderung bertambah.

Saat ini, kata Ridwan, sudah ada 16 perjalanan kereta barang yang berangkat dan datang ke Stasiun Tanjung Priok. Ada 8 kereta dengan total 120 gerbong yagn berangkat dari tanjung priok setiap hari. Jumlah gerbong yang ada ditargetkan akan ditingkatkan hingga 240 gerbong. Staisun Tanjung Priok mendukung operasi stasiun Sungai Lagoa dan Stasiun Pasoso yang mengangkut barang dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok dan sekitarnya.

Dua tahun terakhir ini, kereta barang semakin dilirik para pengusaha. Pengangkutan barang dengan kereta dinilai lebih kompetitif dibandingkan dengan truk, terutama dari sisi keamanan barang, daya angkut dan ketepatan waktu pengiriman. Namun, upaya pengembangan pengangkutan barang dengan kereta masih terhambat. Salah satu hambatan tersebut ada pada rencana pengembangan terminal peti kemas di Tanjung Priok.

HIngga kini, pengosongan lahan di sekitar stasiun Sungai Lagoa dan Stasiun Tanjung Priok belum tuntas. Sebagian warga yang tinggal di RT 007, 011, 012, Kelurahan Tanjung Priok, kecamatan Tanjung Priok, masih menolak untuk pindah. Alasan penolakan mereka adalah karena masih menuntut kejelasan hak dan ganti rugi.

PT KAI sendiri berencana membangun terminal peti kemas (dry port) di lahan seluas 28 hektar, yang meliputi ketiga RW tersebut. Area tersebut berada di sisi Barat Stasiun Tanjung Priok dan sisi selatan Stasiun Sungai Lagoa. Pengosongan lahan itu sendiri sudah dimulai sejak Desember 2013. Para petugas memulai pengosongan itu dengan meratakan bangunan-bangunan yang sudah ditinggalkan. Bangunan-bangunan itu sebagian besar milik eks karyawan PT KIA. Namun, karena ada hambatan penolakan dari sebagian warga, pengosongan itu tidak bisa segera diselesaikan.

Pengosongan itu sendiri ditargetkan pada 28 hektar lahan milik negara yang pengelolaannya diserahkan pada PT KAI di kawasan itu. HIngga awal Maret 2014, pengosongan lahan itu terealisasi sekitar 6.3 hektar. Menurut Agus, tidak ada ganti rugi untuk pengosongan lahan itu. Sesuai peraturan dan kebijakan Direksi, PT KAI hanya akan memberikan kompensasi biaya pindah, bukan ganti rugi, sebagaimana dituntut sebagian warga.

Pembangunan kawasan itu terkait Peraturan Presiden No. 83 tahun 2011 tentang penugasan kepada PT KAI utnuk Menyelenggarakan Sarana dan Prasarana Kereta Api Bandar Udara Soekarno-Hatta dan Jalur Lingkar Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Keberadaan Dry Port di Tanjung Priok akan menopang arus barang dari dan ke luar negeri ataupun Indonesia. Fungsinya mendukung konsolidasi muatan, penumpukan kontainer dan pergudangan yang mendukung distribusi barang melalui jalur kereta api.

 

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY