Reaktivasi Dry Port dan Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Harus Didukung Alternatif Transportasi Barang

0
310
Arus kapal di Pelabuhan Tanjung Emas saat ini mencapai 4.652 unit atau sekitar 20,63 juta gross tonnage (GT). Kunjungan kapal pesiar juga meningkat dari 19 kapal pada 2013 menjadi 25 kapal pada 2014.
Arus kapal di Pelabuhan Tanjung Emas saat ini mencapai 4.652 unit atau sekitar 20,63 juta gross tonnage (GT). Kunjungan kapal pesiar juga meningkat dari 19 kapal pada 2013 menjadi 25 kapal pada 2014.

Surabaya – (suaracargo.com)

Reaktivasi dry port dan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, kini telah digulirkan guna mendukung kelancaran arus barang serta menekan kepadatan lalu-lintas kendaraan di jalan raya. Reaktivasi dry port maupun revitalisasi pelabuhan di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tersebut diharapkan juga bisa menjadi pengungkit roda perekonomian daerah setempat.

Pelabuhan Tanjung Emas memiliki daerah belakang (hinterland) meliputi Jateng dan Yogyakarta. Luas wilayah Jateng 34.548 kilometer persegi, sedangkan luas wilayah Yogyakarta 3.185,80 kilometer persegi. Komoditas ekspor yang dominan dari derah ini antara lain mebel, benang, papan, makanan dan minuman dan hasil perkebunan seperti kopi.

Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tentang rencana reaktivasi dry port dari dan ke Pelabuhan Tanjung Emas sudah ditandatangani jajaran Dirjen Perkeretaapian, Dirjen Perhubungan Laut, PT Pelabuhan Indonesia III (Perseo), Pemprov Jateng dan PT Kereta Api Indonesia.

“Kini tinggal menunggu tindak lanjutnya,” kata General Manager PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Emas, Tri Suhardi, saat menerima kunjungan wartawan dari berbagai media massa di Semarang, sebagaimana dilansir bisnis.com.

Dry port atau pelabuhan daratan merupakan pelabuhan yang berada di daratan yang berfungsi seperti halnya pelabuhan laut. Di pelabuhan daratan ini dilakukan konsolidasi muatan, penumpukan, pergudangan serta dokumentasi muatan yang selanjutnya dikirim ke pelabuhan laut. Pengiriman ke pelabuhan menggunakan peti kemas melalui jalur kereta api. Sesampai di pelabuhan, peti kemas akan dimuat ke kapal untuk kemudian dikirim ke tempat tujuan.

Didampingi General Manager Terminal Petikemas Semarang (TPKS) , Iwan Sabatini, ia menjelaskan, jalur dry port dari dan menuju ke Pelabuhan Tanjung Emas sebenarnya sudah pernah ada.

Namun demikian, layanan dry port terhenti pada 2006. Terhentinya layanan itu diduga karena ketatnya persaingan dengan pengiriman barang dari dan ke pelabuhan menggunakan truk melalui jalan raya.

Sejumlah pelaku usaha menilai layanan dry port sebenarnya cukup kompetitif dari sisi waktu, tapi belum bersaing dari sisi biaya.

Pengiriman barang dari dan ke pelabuhan melalui jalur kereta api, jauh lebih cepat dibandingkan menggunakan truk melalui jalan raya. Sebab, pengangkutan barang melalui jalur kereta api tidak mengalami kemacetan.

Meski demikian, pengangkutan menggunakan jalur kereta api dinilai jauh lebih mahal ketimbang menggunakan jasa angkutan truk melalui jalan raya karena harus menanggung biaya double handling.

Contohnya, barang ekspor di gudang eksportir yang sudah disanitasi, dikemas dan dimasukkan dalam peti harus diangkut truk lebih dulu menuju terminal kereta api.

Sesampai di terminal, peti kemas diangkat, dan kemudian diletakkan di rangkaian kereta api. Dari terminal tujuan di pelabuhan laut, peti kemas harus diangkat lagi dan diangkut menggunakan truk hingga tepi dermaga sebelum diangkat dengan crane, ditata di atas kapal, dan diangkut ke tempat tujuan.

“Jika melihat perjalanannya seperti itu, memang biaya pengangkutan peti kemas melalui dry port akan relatif mahal. Tapi, ingat, menggunakan jalur jalan raya bukan berarti murah kalau kita menghitung risiko yang dihadapi,” kata Iwan Sabatini yang segera menjabat Dirut Rumah Sakit Pelabuhan di Surabaya ini.

Bila peti kemas melaui jalan raya kepadatan arus lalu lintas akan bertambah. Tingginya volume kendaraan di jalan raya akan berpotensi menimbulkan kemacetan arus lalu lintas. Kemacetan arus lalu lintas akan berdampak terhadap “terbuangnya” bahan bakar minyak bersubsidi secara sia-sia. Apalagi, beban kendaraan niaga berikut muatannya sangat besar. Beban itu juga berdampak terhadap penurunan daya tahan jalan dari kerusakan. Dana yang dibutuhkan untuk pemeliharaan jalan juga tidak sedikit. Belum lagi jika pelaku usaha menghitung tingkat risiko kecelakaan di jalan raya.

Karena itu, rencana reaktivasi dry port perlu didukung agar alternatif pengangkutan barang bertambah, dan diharapkan arus barang semakin lancar. Dana untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) dari pemerintah bisa disisihkan untuk mendukung operasional PT Kereta api agar mampu memberikan layanan di dry port lebih kompetitif karena double handling yang dikeluhkan pelaku usaha, bisa ditekan.

Terkait dengan reaktiviasi ini, jajaran PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daops) IV Semarang tampaknya kini memang telah melakukan langkah-langkah guna reaktivasi jalur kereta api dari Stasiun Tawang – Pelabuhan Tanjung Emas yang jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 1-2 kilometer.

Langkah yang dilakukan perusahan penyedia jasa angkutan kereta api tersebut adalah menyiapkan jalur yang pernah ada antara Stasiun Tawang – Pelabuhan Tanjung Emas yang saat ini sebagian relnya terpendam akibat turunnnya permukaan tanah. Tanah di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim dari Universitas Diponegoro Semarang mengalami penurunan sekitar 5 centimeter setiap tahun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here