Resolusi MARIN Nusantara Menyikapi Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Acociation (KTT IORA) 2017.

0
273

Indian Ocean Rim Association (IORA) adalah negara yang tergabung dalam asosiasi Negara-negara Pesisir Samudra Hindia menghimpun beberapa negara yang berbatasan pantai dengan samudera hindia ini memiliki beberapa prioritas program seperti Keselamatan dan Keamanan Maritim, Perdagangan dan memfasilitasi Investasi negara-negara anggota, Manajemen Perikanan, Manajemen Penanganan Resiko Bencana, Kerjasama dalam Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta pengembangan sektor pariwisata.

Pada saat pertemuan IORA di Indonesia (Padang), melalui menteri luar negeri Retno Marsudi secara resmi memimpin organisasi samudra hindia ini periode 2015-2017, dalam kesempatan itu Indonesia berkomitmen memperkuat kerja sama maritim, keamanan dan ekonomi yang bertujuan mempererat kerjasama dan meningkatkan kapasitas negara-negara anggota IORA.

Dalam rangka pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Acociation (KTT IORA) yang akan dilaksanakan pada tanggal 5-7 maret 2017 mendatang, Maritim Research Institute (MARIN Nusantara) memberikan Resolusi kepada pemerintah Republik Indonesia untuk mengambil sikap sebagai berikut :

1. Menggelorakan Amanat Konstitusional
Sesuai dengan amanat pembukaan konstitusi UUD 1945, Indonesia menegaskan bahwa ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Indonesia hadir untuk membangun persahabatan dengan negara-negara di dunia untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia dengan hubungan persahabatan yang sehat bukan dengan kompetisi yang akan mendominasi negara lain. Negara pantai dikawasan samudera hindia hendaknya tidak terprofokasi dengan isu-isu global yang dapat merusak hubungan persahabatan dikawasan samudera hindia dan bertekad untuk menjaga kepentingan bersama. Persahabatan juga haruslah menunjukan adanya komitmen bersama untuk menjaga kepentingan negara-negara kawasan samudera hindia. Komitmen yang dimaksudkan adalah adanya independensi suatu negara dalam membawa kepentingan nasionalnya yang sejalan dengan kepentingan bersama negara kawasan samudera hindia.

2. Politik bebas aktif
Menegaskan posisi indonesia tidak terikat dalam dominasi negara kuat, dan aktif dalam memperjuangkan kepentingan negara-negara dikawasan samudera hindia yang merupakan negara anggota IORA. Politik bebas aktif ini hendaknya menjadi contoh pada negara-negara dikawasan samudera hindia untuk tidak terikat dalam dominasi negara kuat baik secara ekonomi, politik, dan militer. Hanya dengan melepaskan dominasi tersebut, negara-negara dikawasan samudera hindia akan menjadi negara yang berdaulat, dalam menentukan masa depan bangsa-bangsa di samudera hindia.

3. Kerjasama non ekspansi
Belajar dari tradisi hubungan internasional kontemporer bahwa kerjasama hanyalah cover dalam relasi antar negara-negara, namun muatannya adalah menjadi alat negara tertentu untuk melakukan ekspansi ekonomi, politik, dan militer. Dengan bentuk kerjasama yang demikian, negara berkembang hanya menjadi sasaran empuk dalam ekspansi negara kuat ataupun negara yang menjadi bagian aliansi politik negara kuat tersebut untuk menjalankan kepentingan ganda. Dan negara berkembang cendrung dipaksakan untuk ikut dalam kerjasama tersebut dengan dalih akan diberikan bantuan untuk melakukan pembiayaan pembangunan. IORA harus melakukan kerjasama bukan melakukan ekpansi ekonomi, politik, dan militer dikawasan samudera hindia. Kerjasama hendaknya saling menguntungkan dan berdasarkan kebutuhan masing-masing antar negara untuk menciptakan iklim yang kondusif di kawasan Samudera Hindia. Kerjasama ini hendaknya mampu menghilangkan dominasi yang akan menjurus pada ekspansi ekonomi, politik, dan militer sehingga merugikan negara-negara lain dan menguntungkan negara tertentu dengan cara yang tidak sehat.

Contoh dari kerjasama ini adalah kerjasama di bidang perdagangan, misalanya ekspor Indonesia ke Afrika Selatan di tahun 2011 mencapai USD 1,43 milyar, sementara impor indonesia dari Afrika Selatan mencapai USD USD 705 Juta (antara 2011). Potensi lain adalah ekspor Indonesia dipasar afrika mencapai USD 550 milyar ditahun 2016, namun realisasi ekspor Indonesia baru USD 4,2 milyar. Potensi Ekspor Indonesia kepasar timur tengah mencapai USD 975 milyar, namun baru terealisasi USD 5 milyar (setgab 2017). Indonesia juga terus membuka peluang investasi pada negara-negara anggota IORA untuk berinvestasi di Indonesia terutama disektor industri, pariwisata, infrastruktur, dll.

4. Transformasi ekonomi
Mendorong negara-negara berkembang di kawasan samudera hindia anggota IORA untuk bangkit melakukan transformasi ekonomi. Dari ekonomi bahan baku menjadi ekonomi industri. Adanya kesadaran bahwa negara berkembang tidak akan bisa bangkit dan menjadi negara maju, jika terus mengandalkan sektor ekonomi bahan baku. Sehingga transformasi ekonomi industri perlu dilakukan secepatnya untuk mengimbangi kekuatan ekonomi negara industri maju dan negara-negara di IORA tidak menjadi pasar dan negara konsumen. Industrialisasi berdasarkan potensi sumberdaya masing-masing negara. Artinya bahwa bahan baku yang tersedia harus mampu di dikelolah sendiri. Pemasaran pada tahap awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dalam perkembangannya adalah untuk kepentingan kerjasama ekonomi dikawasan samudera hindia dengan prinsip saling membutuhkan dan menguntungkan. Negara- negara anggota IORA harus saling mendukung untuk melakukan pengembangan industrialisasi dalam bentuk investasi (hulu) dan pembangunan infrastuktur untuk mendukung proses distribusi (hilir) ekonomi. Dalam mendukung tranformasi ekonomi tersebut, IORA juga harus memiliki lembaga keuangangan yang mencerminkan semangat kepentingan anggotanya.

5. Poros maritim dunia
Poros maritim dunia berbeda dengan Trans Pasific Partnership (TPP) yang di gagas oleh Amerika Serikat, berbeda dengan Jalur Sutra Maritim (Maritime Silk Road) yang digagas oleh Tiongkok, juga berbeda dengan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang digagas oleh Australia. Bahwa poros yang dibangun oleh Amerika Serikat, Tiongkok, dan Australia hanya ditujukan untuk kepentingan mereka sendiri, sehingga menjadikan negara lain sebagai sirkuit dagang dari ekspansi untuk ekonomi, politik, dan militer.

Indonesia harus bertekad untuk mengembalikan kejayaan maritim negara-negara di kawasan Samudera Hindia. Menegaskan bahwa Poros maritim dunia akan menjadi kekuatan maritim negara-negara dikawasan samudera hindia bukan hanya untuk kepentingan indonesia tetapi untuk kepentingan bersama negara anggota IORA. Negara pantai hanyalah negara dalam pengertian geografis, untuk itu negara pantai harus bangkit untuk memanfaatkan potensi maritim. Artinya menghidupkan kembali aktivitas kemaritiman yang dikendalikan oleh negara-negara pantai di kawasan Samudera Hindia. Transformasi ekonomi (ekonomi bahan baku menjadi ekonomi industry), pada akhirnya akan bermuara pada hilirisasi yang bergantung pada posisi strategis negara pantai. Artinya bahwa kebangkitan negara berkembang menjadi negara industri akan mempunyai implikasi yang sangat luas terhadap perubahan situasi ekonomi – politik dunia. Disinilah peluang negara pantai kedepan dengan posisinya strategis dalam distribusi perniagaan dilaut.

Maritim Research Institute (MARIN Nusantara) mengucapkan selamat berkonferensi untuk negara-negara anggota IORA.

Muhamad Harif
Ketua Bidang Hukum dan Hubungan Internasional
MARIN Nusantara

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here