Rizal Ramli Diharapkan Mampu Akhiri Dominasi Asing di Pelabuhan Tanjung Priok

0
286
ilustrasi truk pengangkut peti kemas (jppn.com)
ilustrasi truk pengangkut peti kemas (jppn.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal ( SP JICT) mengharapkan reshuffle kabinet membawa dampak baik pada pengelolaan terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka berharap agar masuknya Rizal Ramli sebagai menteri koordinator maritim bisa membuat keputusan Pelindo II tentang pengelolaan terminal peti kemas di Tanjung Priok kepada Hutchison Port Holding (HPH) bisa dibatalkan.

Menurut Ketua SP JICT, Nova Sofyan, pihaknya sangat berharap Rizal langsung melakukan gebrakan terhadap keputusan Dirut Pelindo II RJ Lino untuk memperpanjang konsesi untuk perusahaan asing di bidang pengelolaan pelabuhan itu. Pasalnya, perpanjangan konsesi itu sangat merugikan.

“SP JICT berharap agar pemerintah segera menghentikan perpanjangan konsesi JICT, meninjau kembali prosesnya dan mengambil keputusan yang menguntungkan Indonesia sebesar-besarnya,” ujar Nova dalam siaran pers ke media, Kamis, (13/8).

Nova menegaskan, pengelolaan pelabuhan menyangkut kepentingan nasional. Karenanya ia wanti-wanti agar jangan sampai Indonesia dirugikan dengan keputusan RJ Lino soal JICT.

Nova lantas mengingatkan Rizal tentang adanya kisruh antara RJ Lino dengan pekerja JICT. SP JICT keberatan dengan kontrak baru HPH di JICT sebesar USD 215 juta. Angka itu justru turun dibandingkan ketika HPH pertama kali mengelola terminal peti kemas di Tanjung Priok pada 1999 dengan kontrak USD 243 juta.

Nova juga menambahkan, sikap Lino yang ngotocot soal konsesi ke HPH patut dipertanyakan. Sebab, mengacu pada UU Pelayaran maka perpanjangan konsesi itu harus seizin Kementerian Perhubungan.

Karenanya Nova menganggap keputusan Pelindo II memperpanjang konsesi untuk HPH itu tidak dibarengi transparansi. “Kami berharap Pak Rizal Ramli dapat melakukan audit terhadap proses perpanjangan konsesi JICT. Apa yang dilakukan Dirut Pelindo II sama sekali tak dapat dikategorikan sebagai proses yang transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here