Rusia Minta Indonesia Buka Kantor Perwakilan Sawit di Moskow

0
23

Bisnis.com, JAKARTA – Berkat konsumsi minyak sawit yang meningkat di Rusia, pemerintah dan pelaku usaha di Negeri Beruang Merah itu mengharapkan Indonesia memiliki kantor perwakilan perdagangan minyak sawit di Moskow.

Direktur Eksekutif Fat and Oils Foods Producers and Consumers Association Rusia Ekaterina A. Esterova menyampaikan harapan tersebut langsung ke Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).

“Sebagian besar atau sekitar 80% minyak sawit yang kami konsumsi berasal dari Indonesia, hanya sedikit yang dari Malaysia,” katanya saat menerima delegasi Gapki di kantornya di Moskow, belum lama ini.

Esterova mengungkapkan konsumsi minyak nabati di Rusia sebagian besar berasal dari minyak bunga matahari. Tapi terdapat tren peningkatan konsumsi minyak sawit sejak 2017.

Total konsumsi minyak sawit di Rusia mencapai sekitar 650.000 ton, di mana sekitar 615.000 ton di antaranya diimpor dari Indonesia.

“[Peningkatan tren konsumsi] Karena harga yang lebih murah,  minyak sawit semakin diminati. Hanya, pertumbuhan konsumsi minyak sawit terhambat oleh kampanye negatif di sini,” tuturnya.

Maka itu, didirikannya kantor perwakilan di Moskow dinilai perlu supaya alur komunikasi menjadi lebih mudah.

Bahkan, Esterova mengaku siap membantu kampanye sawit di Rusia sebab penting membangun kesadaran bahwa yang membahayakan kesehatan adalah lemak jenuh (trans fat). Di antara minyak nabati lainnya, minyak sawit yang paling sehat karena tidak mengandung trans fat.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono yang memimpin delegasi ke Rusia menyambut baik usulan tersebut.

“Akan kami sampaikan kepada pemerintah tentang perlu menjaga pasar Rusia ini,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, peneliti National Research Center Rusia Dr. Zinaida Medvedeva menegaskan aspek kesehatan dari minyak sawit. Menurutnya, minyak sawit merupakan pilihan yang paling tepat untuk menghindari asam lemak trans (trans-fatty acid atau biasa disebut transfat).

Asam lemak trans merupakan zat yang dihasilkan dari proses hidrogenisasi parsial untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak dalam pembuatan minyak makan dan berisiko tinggi menimbulkan penyakit kardiovaskuler.

“Sejak 2015, otoritas pangan AS (Food and Drug Association/FDA) memberi waktu tiga tahun kepada industri makanan untuk menemukan pilihan lain untuk menghilangkan transfat dan melarang adanya transfat,” terang Medvedeva.

Dia melanjutkan minyak makan sawit yang secara alamiah memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bersifat semi solid. Alhasil, tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunannya sebagai minyak makan, sehingga asam lemak trans tidak terbentuk.

Otoritas pangan Rusia secara prinsip mengikuti standar FDA terkait transfat ini. Maka, dinilai tidak mengherankan jika impor dan penggunaan minyak sawit di negara Eropa Timur itu akan semakin tinggi ke depannya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here