Sepi Order, 50 Persen Truk Barang Hentikan Operasional

0
228
ilustrasi truk barang (industri.bisnis.com)
ilustrasi truk barang (industri.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Sekitar 50 persen armada angkutan barang terpaksa menghentikan operasional mereka seiring merosotnya volume ekspor impor karena terdampak lesunya perekonomian.

Pengusaha angkutan barang sudah mulai melakukan efisiensi di perusahaannya menyusul tergerusnya pendapatan karena minimnya order. Tak terkecuali, mengurangi jumlah armada angkutan barang yang beroperasi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan mengatakan, minimnya order pengangkutan memicu merosotnya pendapatan perusahaan. Akhirnya, operasional armada terpaksa dikurangi.

“Bahkan, sejumlah pengusaha ada yang truknya ditarik oleh leasing dan ada yang dikanibalisasi spareparts-nya untuk menjaga keberlanjutan usahanya,” kata Gemilang, di Jakarta, Kamis (1/10).

Kondisi sepinya angkutan truk di pelabuhan sudah dirasakan selama tiga bulan terakhir. “Tiga bulan terakhir ini, tetapi awalnya ya sejak Januari 2015,” kata dia, seperti dilansir sinarharapan.co.

Akhirnya, para pengusaha truk terpaksa melakukan efisiensi ketat di perusahaannya. Tidak hanya mengurangi jumlah operasional armada, pengusaha truk juga terpaksa merumahkan karyawannya karena kesulitan untuk membayar gaji di tengah sepinya muatan pengangkutan.

“Kami sulit mencari solusi saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukan yah menurunkan pengeluaran rutin, termasuk pengurangan karyawan,” kata Gemilang.

Namun demikian, Gemilang berharap kondisi perekonomian segera membaik. Gemilang juga meminta agar pemerintah bersikap adil terhadap pengusaha angkutan dengan menerapkan deregulasi terkait perpajakan bagi pengusaha truk. Hal ini sangat bermanfaat, khususnya bagi pengusaha yang ingin meremajakan armadanya.

Seperti industri galangan kapal dan penerbangan, industri angkutan truk di tengah sepinya angkutan juga butuh insentif dari pemerintah. Bahkan, Aptrindo sudah berkali-kali menyampaikan permintaan pelonggaran kebijakan itu kepada pemerintah.

Sayangnya, jawaban pemerintah selalu sama yakni menilai angkutan truk tidak layak menerima insentif karena dianggap menjadi penyebab kemacetan. “Sudah sering kita minta balik lagi. Alasannya bahwa karena angkutan darat ini jalanan macet, jadi tidak perlu difasilitasi,” katanya.

Padahal, fungsi truk diyakini masih tetap menjadi ujung tombak untuk mengangkut kontainer dari dan menuju kanal Cibitung Bekasi Laut (CBL) dan stasiun barang. Ia justru menilai pemanfaatan kanal dan KA pelabuhan akan maksimal jika melewati daerah industri sehingga sarana multimoda logistik dapat terealisasi.

Menurutnya, pengusaha logistik akan tetap memperhitungkan biaya transportasi termurah. “Seperti KA dari Bandung ke Jakarta, sekarang kalau mau dari satu kawasan industri Bandung ke Gedebage ongkosnya sudah berapa. Ditotal itu lebih murah naik truk, pengusaha berpikirnya lebih murah dan lebih cepat. Tapi jangan kita yang disalahkan jadi macet, kalau enggak ada kami, enggak jalan,” jelasnya.

Gemilang menuturkan truk yang datang dari Pelabuhan Tanjung Priok melintasi Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta di Cikunir harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam pada kondisi ramai.

“Consumer Goods”
Di sisi lain perusahaan logistik Eureka Logistics mengklaim tidak mengalami sepi muatan selama kondisi ekonomi dalam negeri melemah.

Head Office Eureka Logistics, Paul S Hutauruk mengatakan bisnisnya tidak mengalami penurunan berarti karena pelanggan adalah perusahaan yang tidak bertahan melalui bahan baku impor. “Kami tidak berpengaruh. Kebanyakan customer kami adalah perusahaan lokal sehingga tidak sepi muatan,” ujarnya.

Sebaliknya, perusahaan harus meminta tambahan armada dari mitranya. Perusahaan dapat terus bertahan karena mendapat kepercayaan dari pelanggan. Perusahaan menunjukkan kepada pelanggan memiliki daya jual perusahaan dan pelayanan maksimal. “Terus terang tarif kami tidak murah-murah sekali. Namun, kami percaya dengan daya jual kami,” Paul menegaskan.

Selain itu, kunci keberhasilan perusahaan adalah fokus bisnis tracking yang melayani pelanggan dengan produk berbasis barang konsumsi, seperti susu, margarin, dan minyak goreng. “Kita fokus ke consumer goods, sehingga bisa bertahan,” tegasnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY