Serikat Pekerja JICT Tolak Perpanjangan Konsesi Petikemas

0
272
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)

Jakarta – (suaracargo.com)

Serikat Pekerja JICT (Jakarta International Container Terminal) menolak perpanjangan konsesi terminal petikemas di JICT (Jakarta International Container Terminal) dan TPK Koja. Perpanjangan konsesi antara PT Pelindo II dengan Hutchison Port Holding (HPH) itu harus dibatalkan karena melanggar undang-undang dan sangat merugikan negara.

“Presiden Joko Widodo harus bertindak tegas untuk membatalkan kontrak pengelolaan terminal di JICT dan TPK Koja yang akan diperpanjang sampai tahun 2038,” kata Ketua ITF (International Transport Worker’s Federation) Asia Pasifik, Hanafi Rustandi, di Jakarta, Jumat (10/7).

Penegasan Ketua ITF ini sekaligus memberikan dukungan kepada Serikat Pekerja (Serikat Pekerja) JICT yang menolak perpanjangan konsesi Pelindo II-HPH melalui aksi demo di depan kantor JICT kawasan Tanjung Priok.

Bahkan, ITF yang merupakan afiliasi SP JICT dan SP TPK Koja, sangat mendukung aksi lebih besar yang akan dilaksanakan kedua SP tersebut jika Pelindo II tidak segera membatalkan perpanjangan konsesi tersebut.

Pengelolaan terminal petikemas oleh HPH di JICT dan TPK Koja akan berakhir tahun 2019. Namun, 4 tahun menjelang konsesi berakhir, Dirut Pelindo II/IPC R.J. Lino disebut-sebut telah mendatangani perpanjangan konsesi sampai tahun 2038.

“Perpanjangan konsesi ini melanggar undang-undang, karena berdasarkan UU Pelayaran No.17/2008, pemberian konsesi adalah kewenangan Kementerian Perhubungan,” ujar Hanafi, sebagaimana dilansir poskotanews.com.

Dia juga menyesalkan, nilai perpanjangan kontrak itu hanya 215 juta dolar AS dalam posisi throughput petimekas di atas 2 Juta TEU’s/tahun. Padahal, 20 tahun lalu, nilai kontraknya lebih besar, yaitu 243 juta dolar dengan posisi throughput 1,4 juta TEU’s/ tahun.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, kata Hanafi, JICT saat ini sebagai perusahaan yang sehat dengan cash flow yang sangat baik. Sehingga pengelolaan terminal JICT dan TPK dipastikan mendapat keuntungan.

“Kalau memang untung, kenapa diserahkan ke pihak asing dan tidak dikelola sendiri oleh Pelindo II. Pengelolaan terminal petikemas tidak perlu diserahkan ke perusahaan asing. Sudah waktunya pengelolaan terminal di berbagai pelabuhan dikelola oleh investor nasional, termasuk JICT dan TPK Koja,” kata Hanafi.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here