Serikat Pekerja TPK Koja Siap Hadapi Ketatnya Persaingan Antar Terminal Peti Kemas

0
149
Ilustrasi Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok - Antara/Rivan Awal Lingga

Jakarta – (suaracargo.com)

Serikat Pekerja TPK Koja melakukan langkah taktis dalam menghadapi ketatnya persaingan antar terminal petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Alih-alih berupaya menggembosi dan melawan kebijakan perusahaan, dua serikat karyawan di TPK Koja sepakat untuk melebur diri menjadi satu serikat.

Langkah ini diambil Serikat Pekerja TPK Koja untuk menjamin kinerja perusahaan semakin solid, sehingga kesejahteraan karyawan diharapkan semakin membaik.

“Fokus kami saat ini adalah mendukung upaya manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Kami tidak ingin mengorbankan nasib ratusan karyawan Koja yang sudah tergantung pada perusahaan ini,” ujar Ketua SP TPK Koja Joko Supriyanto dalam keterangannya, (21/3/2018).

Langkah bersatunya Serikat Pekerja Bersatu (SPB) TPK Koja dengan Serikat Pekerja (SP) TPK Koja berlangsung kemarin. Penyatuan ini disaksikan Kepala Sudinaker Jakarta Utara, Dwi Untoro dan Manajemen TPK Koja yang diwakili Deputy GM Nurjadin Surur.

Bersatunya Serikat Pekerja TPK Koja tersebut juga mendapat respon positif dari Kasudinakertrans Jakarta Utara Dwi Untoro. Menurutnya, langkah para pekerja di TPK Koja tersebut sangat positif untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah persaingan antar terminal yang semakin ketat di Tanjung Priok.

“Jika memang ada perselisihan dengan manajemen, pekerja bisa datang ke sudinaker untuk mencari solusi bersama. Bersatunya pekerja akan memperkuat perusahaan dan layanan di Pelabuhan Tanjung Priok,” jelas Dwi Untoro.

Beroperasinya New Priok Container Terminal One (NPCT1) membuat persaingan antar terminal petikemas semakin ketat. Apalagi NPCT1 yang dimotori oleh operator pelabuhan asing kelas dunia seperti Mitsui & Co Ltd. (Mitsui) dan Nippon Yusen Kabushiki Kaisha (NYK Line) dari Jepang serta PSA International Pte Ltd (PSA) dari Singapura. Ketiga perusahaan tersebut bersama Pelindo II adalah pemilik NPCT1.

Selain NPCT1, di Tanjung Priok juga telah beroperasi PT Jakarta International Container Terminal (JICT), PT Mustika Alam Lestari (MAL), TPK Koja dan Terminal 3 Priok.

JICT saat ini merupakan operator terminal petikemas terbesar di Tanjung Priok dengan kapasitas sebesar 2,8 juta TEUs per tahun. Sementara TPK Koja tahun ini ditargetkan melayani 754 ribu TEUs.

Terminal peti kemas (TPK) Koja mencatatkan arus peti kemas, baik dari pelayaran internasional maupun domestik (throughput) hingga minggu pertama Desember 2017 melebihi 1 juta Teus (twenty foot equivalent unit atau satuan terkecil dalam ukuran peti kemas). Pencapaian ini melampaui raihan perusahaan dalam 20 tahun sejak pertama kali berdiri.

“Pencapaian throughput yang melebihi 1 juta Teus merupakan pencapaian pertama kali bagi TPK Koja. Ini membuktikan kerja keras manajemen dan seluruh pekerja membuahkan hasil yang membanggakan,” ujar General Manajer (GM) TPK Koja Ade Hartono kepada wartawan seperti ditulis, Senin (11/12/2017).

Dia menuturkan, hingga akhir tahun 2017 manajemen TPK Koja memperkirakan total throughput dapat mencapai 1,095 juta Teus, atau 31 persen melampaui target awal 2017 yang ditetapkan 830.531 Teus. Perkiraan throughput sebanyak 1,095 juta Teus juga meningkat 32 persen hingga akhir 2017 dari 2016 sebesar 827.198 Teus.

Selain itu, ucap Ade, pencapaian tersebut membuktikan bahwa TPK Koja berada di jalur yang tepat (on the right track) guna mewujudkan visi perusahaan, yakni menjadi penyedia layanan terminal petikemas terintegrasi berkelas dunia.

Hasil throughput yang melebihi 1 juta Teus juga dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah mewujudkan efisiensi biaya logistik dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

“Tidak lupa, hasil ini juga berkat dukungan stakeholders yang terkait terutama dukungan untuk pengoperasian dermaga utara,” ujar dia.

Ke depan, Ade menjelaskan, hasil ini akan menjadi acuan perusahaan untuk melangkah sesuai peta perusahaan yang telah disusun hingga 2020. Ade menambahkan, pencapaian throughput yang melebihi 1 juta Teus didukung oleh strategi penetrasi pasar yang tepat sesuai peta perusahaan.

“Ke depan, TPK Koja akan terus fokus pada pertumbuhan volume, pertumbuhan profit, dan penciptaan layanan baru yang mendukung layanan bisnis utama, seperti mengintegrasikan layanan transhipment,” kata dia, seperti dilansir liputan6.com.

Sekretaris Perusahaan TPK Koja, Nuryono Arief, menjelaskan rasio bongkar muat petikemas dari kapal atau Box Crane per Hour (BCH) TPK Koja per September 2017 sudah mencapai 23 boks per jam, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang hanya 20 boks per jam.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here