Social Commerce Masih Sumbang Nilai Transaksi Tertinggi Dalam E-Commerce

0
528
ilustrasi bisnis online (bandung.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Social commerce sejauh ini menyumbang nilai transaksi e-dagang tertinggi. Dengan solusi pembayaran yang mudah dan cepat, bisnis dengan mengandalkan media sosial ini bisa tumbuh pesat. Data dari Asosiasi Fintech Indonesia dan Tech in Asia (2016) menyebutkan bahwa nilai transaksi per hari dari social commerce mencapai 2,7 juta transaksi. Mereka selama ini berdagang secara online dengan memakai platform sosial seperti Facebook, Instagram, BBM, Line, dan WhatsApp.

Disebutkan juga bahwa 80 persen pertumbuhan perdagangan online saat ini dominasi oleh aktvitas jual beli yang berlangsung di social commerce. Platform ini dipilih karena penjual dan pembeli dapat melakukan percakapan panjang tentang seluk beluk produk, sistem pembayaran dan tata cara pengiriman.

Namun, seperti e-dagang umumnya, penggunaan social commerce masih menemui hambatan dari sisi pembayaran, apalagi platform media sosial ini tidak memiliki fitur pembayaran di dalamnya. “Kami dari Xfas igin mempermudah para penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi pembayaran,” ujar CEO Faspay, Hioe Fui Kian di Jakarta Rabu (26/4).

Xfas memberikan pembeli link dari produk yang telah dibeli. Link yang diterima berisi informasi dari produk yang telah dibeli dari deskripsi singkat produk tersebut, jumlah barang, jenis barang yang dibeli, berat barang, harga, gambar dan lain sebagainya. Dengan mengklik link yang dikirim, maka semua informasi yang dibutuhkan akan diterima oleh penjual sehingga proses transaksi menjadi lebih efektif, cepat dan aman.

Xfas diklaim menjadi solusi “anti ribet” satu-satunya yang lengkap, aman dan mudah bagi penjual dan pembeli di social commerce. Sistem ini diharapkan bisa menjadi solusi social commerce yang terintegrasi dengan sistem pembayaran dan manajemen inventori pertama bagi penjual dan pembeli terutama yang pengguna platform social commerce. “Xfas terwujud berkat kolaborasi dari payment gateway provider lokal, Faspay bersama dengan perusahaan financial technology Xfers dari Singapura,” ujar Hioe, seperti dilansir koran-jakarta.com.

Ditujukkan untuk para usaha kecil dan menengah Xfas, mengusung konsep the simplest social commerce payment solution. Caranya dengan membuang elemen-elemen utama dalam berjualan online seperti komunikasi yang ribet, pengintegrasian sistem hingga biaya untuk memelihara website, dan manajemen inventori.

Bantu Bisnis Anak Muda

Bukan hanya membantu para pelaku UKM, Xfas juga berusaha menjadi solusi bagi anak muda yang ingin bisnis online. Menurut Liu Tian Wei, CEO dan Co-Founder Xfers, dengan kemudahan yang ditawarkan Xfas bisa dipakai untuk bertransaksi, agar anak muda seperti pelajar dan mahasiswa dengan mudah memasarkan produknya.

Cara menggunakan Xfas cukup mudah, pengguna cukup masuk ke dalam dashboard Xfas yang telah disediakan untuk mengatur produk yang hendak dijual. Sebelum masuk ke dashboard, pengguna harus melakukan registrasi terlebih dulu melalui www.xfas.co.id. Hal ini hanya berlaku untuk seller saja, bagi buyer tidak perlu melakukan login terlebih dulu.

Dashboard ini nantinya akan menciptakan suatu link yang nantinya link inilah yang digunakan penjual untuk disebarkan kepada calon pembeli melalui media sosial, forum maupun aplikasi messenger. User yang menerima link tersebut akan diarahkan ke halaman pemesanan yang berisi tentang informasi produk yang tadi telah di-setting dalam dashboard.

Selanjutnya pengguna akan menerima informasi mengenai pembayaran produk yang hendak dibeli dengan beragam pilihan metode transfer bank maupun kartu kredit. Apabila pembayaran tersebut berhasil dilakukan, Xfas akan mengirimkan notifikasi secara otomatis kepada penjual.

Penjual dapat melanjutkan ke proses pengiriman barang. Dengan demikian pembeli tidak perlu melakukan hal apapun untuk mengkonfirmasi sehingga dapat duduk dengan tenang sambil menunggu barang yang mereka beli dikirim. “Xfas juga menawarkan berbagai kemudahan lainnya seperti, kemudahan mengolah data inventori barang yang dijual, analisis penjualan hingga proses pencairan uang yang tidak rumit,” ucap Hioe Fui Kian.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here