Sri Sultan: Ingin Kemajuan Kembangkan Pelabuhan Belitung

0
170
ilustrasi pelabuhan Tanjung Pandang, Belitung (detik.com)
ilustrasi pelabuhan Tanjung Pandang, Belitung (detik.com)

Belitung – (suaracargo.com)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menyarankan agar Pemerintah Indonesia untuk membangun Pelabuhan Belitung. Saran ini disampaikannya terkait rencana pemerintah untuk mengembangkan tol laut. Seperti dikutip dari Metrotvnews.com, Sultan mengatakan tidak setuju bila tol laut Indonesia disingkronkan dengan sistim Tiongkok.

Sebab, kebijakan tersebut akan membuat Indonesia menjadi konsumen utama Tiongkok. Menurut Sri Sultan, tol laut seharusnya menjadi fasilitas distribusi nasional. Karena itu, pengembangannya bisa dilakukan dengan membangun pelabuhan di wilayah barat dan timur Indonesia.

“Kalau mau kompetitif ya Indonesia bangun pelabuhan di Belitung. Kalau untuk distribusi nasional bangun pangkalan di Belitung atau Rupat. Lalu kapal asing hanya berhenti di Belitung. Untuk didistribusikan ke seluruh Nusantara oleh Tol Laut atau kapal Indonesia sendiri,” kata Sultan sebagaimana dilansir bangkapos.com. Hal itu disampaikan Sultan pada acara Bincang-bincang Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Gatot Nurmantyo dengan Aparat Pemda, DPRD, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda se-DIY, di Hotel Rich Yogyakarta, Senin (20/4).

Merujuk pada sejarah, pandangan serupa juga sempat disampaikan oleh sejumlah tokoh barat seperti Pangeran Belanda Prins Hendrik dan pendiri kota Singapura Thomas Stamford Raffles. Prins Hendrik melalui ahli kuasnya, JF Loudon mengajukan konsesi penambangan timah Belitung pada Pemerintah Hindia Belanda, tahun 1852. Tak hanya itu, Prins Hendrik juga disebut mengajukan izin untuk membangun pelabuhan terbuka di pulau tersebut.

Kedua usulan tersebut tercatat dalam buku JF Loudon yakni De Eerste Jaren Der Billiton-Onderneming yang diterbitkan 1883 di Amsterdam, Belanda. Usulan penambangan timah selama 40 tahun pertama disetujui oleh Pemerintuh Hindia Belanda.

Namun soal pelabuhan terbuka, tak pernah ada jawaban tegas, sekalipun Loudon mengaku sudah menanyakannya berulang kali pada pemerintah.

Sementara itu, pandangan Thomas Stamford Raffles tentang Belitung tergambar dari surat-surat pribadinya yang dilampirkan dalam buku Memoir of The Life anda Public Service of Sir Thomas Stamford Raffles. Salah satunya yakni surat yang ditulisnya pada 1819.

Dalam surat tersebut Raflles menekankan pentingnya Inggris untuk mempertahankan Belitung dalam perebutan wilayah jajahan dengan Kerajaan Belanda. Menurutnya, mempertahankan Belitung bukan untuk kepentingan kekuasaan, tapi demi memperkuat perdagangan Inggris di Asia.

“Belitung terletak di jalur langsung dari perdagangan antara Eropa dan Cina, melewati Selat Sunda, dan akan mampu menjadi pelabuhan yang nyaman untuk penyegaran kapal-kapal Cina kita, dan mungkin diharapkan menjadi gudang yang paling luas dan murah antara Eropa dan Cina,” kata Raffles.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY