Supir Truk Ceritakan Kegiatan Pungli di Pelabuhan Tanjungpriok

0
484
Aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Jakarta – (suaracargo.com)

Sejumlah sopir truk angkutan barang mengeluhkan praktik pungutan liar (pungli) yang diduga dilakukan para oknum petugas Dinas Perhubungan dan oknum kepolisian.

Jajah, seorang sopir truk yang mengangkut barang-barang ekspor dari Tanjung Priok menuju Bekasi, mengaku sering membayar pungli yang dilakukan oknum petugas Dishub DKI Jakarta dan oknum petugas polisi.

cargo-jakarta

Jajah menceritakan, ketika dalam sekali perjalanan dari pelabuhan yang terletak di Jakarta Utara menuju Bekasi, lebih dari enam kali dirinya harus membayar pungli dengan modus biaya retribusi sebesar Rp 5.000-Rp 10.000.

Menurut Jajah, para sopir truk mencurigai adanya warga sipil yang mengenakan seragam mirip petugas Dishub untuk memungut biaya retribusi dari para sopir. Biaya retribusi itu diminta oknum tersebut saat truk tengah melintas.

Selain oknum Dishub, Jajah juga mengaku sering menghadapi oknum polisi yang sengaja mencari-cari kesalahan para pengemudi truk.

“Biasanya dia (petugas) nanya dulu nih, SIM, STNK, kalau lengkap dia lihat pentil ban. Kalau lengkap nih, dia bilang ‘udah, uang rokok aja deh’,” ujar Jajah, saat ditemui Kompas.com di Tanjung Priok, Jumat (14/10/2016).

Jajah mengatakan, selalu saja ada alasan yang digunakan oknum polisi untuk menekan sopir truk. Alasan tersebut diantaranya ketinggian barang yang diangkut melebih aturan dan sebagainya.

Menurut Jajah, berdebat dengan oknum petugas kepolisian juga tidak akan berhasil karena tetap akan diminta “berdamai” di tempat. Minimal, kata Jajah, sopir harus mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000 agar tidak ditilang.

Sopir truk lainnya, Hendi, juga mengatakan masih ada oknum polisi yang melakukan pungutan menggunakan ancaman. Hendi mengaku pernah diminta membayar Rp 200.000 oleh oknum petugas kepolisian hanya karena dianggap lama berhenti ketika diminta berhenti.

“Kalau paling banyak itu sebenarnya kesalahan kecil. Kadang mereka yang minta (damai), kadang kami,” ujar Hendi.

Hendi mengatakan, tidak ada anggaran khusus yang disediakan perusahaannya untuk pungli di lapangan. Tak jarang Hendi harus merogoh kantongnya sendiri untuk membayar seluruh pungutan tersebut.

Adapun Wiro, mengaku telah 20 tahun menjadi sopir truk dan mengatakan pungli sering dialami ketika melintasi wilayah Bekasi. Menurut Wiro, pungli tersebut sering diminta oknum petugas yang berpakaian mirip petugas Dishub. Biasanya Wiro memberikan uang sebesar Rp 5.000 bagi oknum petugas tersebut.

“Saya nggak pernah tahu mereka apa dia petugas atau bukan, kalau dia minta ya kita kasih. Malas ngurus-ngurusin yang begituan, lebih baik kita nyampe tempat (lokasi pengantaran barang), udah pulang,” ujar Wiro.

Saat ini, pemerintah sedang gencar berusaha memberantas pungli. Presiden Joko Widodo bahkan menyatakan agar oknum petugas yang terlibat pungli untuk ditangkap dan dipecat.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY