Tantangan Program Tol Laut di Indonesia

1
299
 Ilustrasi kapal pengangkut peti kemas (Kompas.com/Darwiaty H Ambo Dalle)
Ilustrasi kapal pengangkut peti kemas (Kompas.com/Darwiaty H Ambo Dalle)

Jakarta – (suaracargo.com)

Guna meningkatkan konektivitas, Presiden Joko Widodo sejak awal telah merancang program yang disebut sebagai tol laut. Sugihardjo, Staff Ahli Bidang Logistik dan Multimoda Perhubungan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, mengatakan bahwa secara konsep, tol laut dapat membuat biaya logistik menjadi lebih murah. Namun, tol laut itu sendiri memiliki sejumlah tantangan.

“Kita itu banyak pelayanan poin to poin sesuai dengan permintaan pemilik barang. Itu sebenarnya tidak efisien. Harusnya hubs and spokes,” kata dia di Jakarta, Senin (21/10/2014), sebagaimana dilansir kompas.com.

Sugihardjo juga mengatakan bahwa salah satu penyebab tingginya biaya logistik Indonesia adalah inefisiensi di sisi pelayarannya. Pelayaran tidak efisien lantaran kapasitas kapal Indonesia lebih rendah dibanding kapal asing. Pihak asing menggunakan kapal besar sehingga unit biayalebih kecil.

“Semakin besar ukuran kapal, semakin murah biayanya. Pertanyaannya, muatannya di mana? Kalau enggak ada muatannya, maka makin mahal juga biayanya karena ruangnya banyak yang kosong. Artinya, harus ada sharing muatan kapal di antara pelaku,” kata dia.

Selain itu, kapal-kapal besar membutuhkan pelabuhan-pelabuhan sandar yang cukup dalam. Sugihardjo merinci, Indonesia memiliki 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 pelabuhan khusus. Dari semua itu, pelabuhan dengan LWS 14 meter yang bisa melayani kapal kapasitas 5.000 TEU barulah Tanjung Priok. Itu pun sedang dalam proses pengerukan lagi. Adapun pelabuhan dengan LWS 9 meter hanya bisa disandari kapal berkapasitas 1.000-1.500 TEU.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone