Tarif Angkut Kontainer Tekan Volume Pengiriman Barang

0
47

Makassar – (suaracargo.com)

ALFI Sulselbar memperkirakan volume pengiriman barang melalui moda laut dengan penggunaan kontainer bakal mengalami penurunan seiring dengan penaikan komponen biaya jasa.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sulselbar Syaifudin Saharudi mengemukakan komponen itu tarif angkut kontainer atau container freight yang diberlakukan oleh operator pelayaran untuk pengiriman antarpelabuhan domestik.

Dia menjelaskan, container freight atau lebih kerap disebut uang tambang dalam industri forwarding itu memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap ongkos logistik yang kemudian berimplikasi terhadap harga barang yang diterima masyarakat.

“Hal ini juga berdampak pada kecenderungan pemilik barang untuk melakukan pengiriman, lajunya akan tertahan karena ada komponen biaya pengiriman yang naik. Volume barang akan menurun,” katanya, Kamis (21/9/2017).

Secara rerata, lanjut dia, komponen pengiriman untuk tarif container freight yang diberlakukan oleh operator pelayaran di kisaran 30% mengacu pada kebijakan internal perusahaan pelayaran masing-masing.

Penaikan container freight tersebut dilakukan oleh operator pelayaran sejak awal bulan ini, di mana dampak pengiriman sudah mulai terasa.

Kendati demikian, Syaifudin belum menghitung seara detil besaran penurunan volume pengiriman barang menggunakan kontainer moda laut lantaran kumulatif baru terlihat secara komprehensif pada akhir September 2017 mendatang.

“Tapi grafiknya sekarang sudah ada kecenderungan penurunan, pemilik barang relatif menahan pengiriman karena kalkulasi biayanya sudah relatif besar. Jika dipaksakan, akan ada gejolak harga, pembengkakan biaya logistik juga,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Syaifudin, pemerintah perlu segera mengambil langkah taktis untuk menyelesaikan hal tersebut sehingga dampak pembengkakan logistik dari penaikan container freight tidak semakin mengkhawatirkan.

“Hal ini perlu kami sampaikan, karena jangan sampai ada anggapan bahwa biaya logitik naik, harga barang naik karena biaya yang pengiriman dari forwarder. Padahal ada beberapa komponen yang mempengaruhi, termasuk container freight,” tegas dia, seperti dilansir bisnis.com.

Sebelumnya, Ketua INSA Carmelita Hartoto mengemukakan alasan operator menaikkan freight container lantaran karena tarif yang ditetapkan sebelumnya terlalu rendah.

Menurut doa, pengusaha pelayaran sebelumnya menurunkan seiring dengan adanya program Tol Laut, namun langkah tersebut kurang berdampak terhadap biaya logistik lantaran pemilik barang tidak menurunkan tarifnya.

Padahal, INSA sebelumnya pula telah menawarkan kepada pemerintah agar menggunakan kapal swasta dalam program tol laut. Dengan demikian, pemerintah tak perlu merogoh APBN untuk membeli atau membangun kapal.

Pemerintah cukup memberi kontrak jangka panjang atau pemberian subsidi baik perintis maupun PSO (public service obligation). Pengusaha swasta baru melepaskan subsidi yang diberikan oleh pemerintah jika daerah–daerah yang dilalui dengan subsidi tersebut sudah menjadi daerah komersial.

Total armada kapal yang dimiliki oleh anggota INSA mencapai 20 ribuan kapal dan melayani kurang lebih 57 pelabuhan besar dan kecil di seluruh Indonesia.

Menurutnya, dalam penetapan kapal tol laut sebaiknya perlu diarahkan ke wilayah terpencil agar terjadi peningkatan konduktivitas, seperti ke wilayah Indonesia bagian timur.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY