Tarif KA Logistik Naik, Picu Perubahan Moda Transportasi

0
507
ilustrasi kereta barang (inilah.com)
ilustrasi kereta barang (inilah.com)

Yogyakarta – (suaracargo.com)

Rencana kenaikan tarif kereta api logistik sebesar 15 persen memicu perpindahan moda ke transportasi laut, kata Nofrisel selaku Direktur PT Bhanda Ghara Reksa, yakni perusahaan yang bergerak di bidang logistik.

Nofrisel, saat ditemui di Yogyakarta, Minggu (30/11) mengatakan bahwa pengiriman barang dan logistik sangat dimungkinkan untuk berpindah ke moda transportasi laut. Kemungkinan perpindahan ini sangat terkait dengan adanya rencanan pembangunan tol laut dan optimalisasi 24 pelabuhan. “Kalau infrastruktur siap dibangun, ada kemungkinan berpindah,” katanya, sebagaimana dilansir skalanews.com.

Namun, dia juga menekankan, meski ada perbaikan infrastruktur transportasi laut, perbaikan yang tidak kalah optimal juga perlu dilakukan untuk transportasi darat. “Barang itu, meskipun melalui laut atau udara, pasti baliknya ke darat, karena itu dibutuhkan konektivitas transportasi, yang membuat proses barang tanpa menimbulkan ‘cost’ tinggi,” katanya.

Sekretaris Tim Ahli Sistem Logistik Nasional (Sislognas) itu jugaa mengatakan, kenaikan tarif Kalog serta kenaikan harga BBM bersubsidi memicu kenaikan biaya logistik 10-20 persen. Dia pun menambahkan kenaikan BBM serta tarif Kalog tersebut memang mempunyai pengaruh signifikan terhadap biaya transportasi barang.

“Kita hanya berharap kenaikan BBM diantisipasi perusahaan-perusahaan untuk mengatur sedemikian rupa mekanisme koperasinya agar efisien,” katanya.

Sementara itu, Managing Director PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Johari Zein, mengakui bahwa kenaikan tarif KA logistik sebesar 15 persen tidak terlalu berpengaruh terhadap frekuensi pengiriman barang.

“Di Pulau Jawa pengaruhnya tidak terlalu besar, kita menggunakan kereta api untuk jarak tempuh tertentu. Potensi dari angkutan kereta api tidak terlalu besar,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Manajer JNE Jon Tri Kusnanto, mengatakan bahwa sebagian besar pengiriman dilakukan dengan angkutan udara, yakni memakan porsi 50 persen.

Dari sejumlah maskapai, Jon mengatakan pihaknya menggunakan Maskapai Garuda Indonesia karena “On Time Performance” dan jaringan rutenya lebih banyak, kemudian Lion Air dan Sriwijaya Air. “Pertimbangan kita, pertama kualitas, kami melihat OTP baik dan jaringan rute, frekuensi dan harga lebih kompetitif,” katanya.

Sementara itu, Jon mengaku pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi tidak terlalu signifikan karena struktur biaya operasional paling banyak tersedot oleh sewa gudang.

“Kalau ada (kenaikan) BBM, oke karena kita butuh armada darat ke ‘airport’, tapi jumlahnya kecil, ketimbang harga jumlah muatan, besarnya itu di udara yang paling banyak,” katanya.

PT Kereta Api Logistik (Kalog) berencana menaikkan tarif 15 persen mulai 1 Desember 2014 karena membengkaknya biaya operasional seiring penaikan harga BBM Bersubsidi.

Hal itu disampaikan Direktur Operasi dan Pemasaran Kalog Subakir yang mengatakan penaikan BBM paling berpengaruh pada komponen suku cadang alat angkut dan alat berat sebesar 30 persen dibanding komponen biaya operasional lain.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here