Terhambat Infrastruktur, Logistik di Indonesia Masih Kalah dari Tiongkok

0
364
bongkar muat peti kemas. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Surabaya – (suaracargo.com)

Logistik Indonesia masih kalah bersaing dari Tiongkok. Infrastruktur yang belum memadai di Indonesia masih menjadi salah satu penyebab mahalnya biaya logistik di Tanah Air.

Mencermati hal ini, sejumlah produsen baja mulai melakukan existing di beberapa daerah untuk menekan biaya logistik yang mencapai tujuh persen dari biaya produksi. Di antara upaya tersebut adalah dengan membangun pabrik di beberapa daerah, termasuk di luar Jawa.

“Di luar negeri, logistik sudah cukup bagus. Misalnya di Eropa barang yang datang dari kapal langsung ada feeder-nya langsung ke kereta, sementara di sini belum bisa,” ujar Presiden Direktur Sunrise Steel Henry Setiawan, di Surabaya, Selasa, 8 November.

Begitu pula di Tiongkok. Kondisi daratan negara Tirai Bambu sangat luas itu sehingga logistik di Tiongkok seluruhnya terintegrasi dengan jalur kereta. Sedangkan di Indonesia masih membutuhkan waktu lama untuk dapat menerapkan sistem seperti itu.

“Salah satu faktornya dalah persiapan infrastruktur yang cukup lama,” kata dia singkat, seperti dilansir metrotvnews.com.

Sementara di Indonesia, rata-rata pengusaha logistik masih menggunakan kontainer untuk melakukan pengiriman barang. Menurut Henry, pengiriman melalui truk memiliki banyak kekurangan. Selain rawan kecelakaan, barang yang dikirim juga rawan mengalami kerusakan. Ditambah lagi jika truk itu terjebak macet, biaya untuk bensin dan uang makan supir akan bertambah.

“Walaupun rute pendek seperti Surabaya-Mojokerto yang hanya 60 kilometer (km) akan rusak, itu saja masih sering terjadi kecelakaan, dan itu mengganggu proses produksi, misalnya seperti baja canai dingin yang tidak menggunakan peti kemas itu lebih rawan lagi rusaknya,” jelasnya.

Waktu tunggu di pelabuhan juga masih menjadi penghambat lainnya karena dapat menurunkan utilisasi. Misalnya sebuah kapal dapat bolak balik sepuluh kali, maka hanya dapat bolak balik empat kali saja. Lamanya waktu tunggu yang lama ini masih sering terjadi di pelabuhan-pelabuhan daerah.

Oleh sebab itu, untuk menghemat biaya logistik produsen berlomba membuka cabang lebih banyak di daerah, serta membangun pabrik di beberapa titik. Seperti perseroan yang memiliki 23 cabang di Indonesia, seperti Banjarmasin, Balikpapan, Manado, Makasar, Pontianak. Sedangkan pabrik yang sudah didirikan ada di Bogor, Semarang, Surabaya, Mojokerto, Malang dan Makassar.

“Kami bangun lagi di Bali dan Balikpapan untuk luar jawa, kalau dalam Jawa ada Bandung, nantinya akan lebih hemat membangun pabrik diluar daerah dan dapat menekan bea logistik menjadi maksimal dua persen dari bea produksi,” jelasnya.

Selain itu, penambahan cakupan produk setelah ekspansi juga dilakukan. Setelah sebelumnya ekspor Baja, di Vietnam, Thailand dan Korea, kini bertambah ke Tiongkok.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY