Tiga Pelabuhan Disiapkan Untuk Kurangi Beban Pelabuhan Tanjung Priok

0
352
Sebuah truk tanpa muatan melintas di Terminal Kontainer Internasional (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (1/5).

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sedang mempersiapkan tiga pelabuhan di Banten sebagai alternatif mengurangi kepadatan lalu lintas barang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Tujuan persiapan itu adalah untuk menekan waktu tunggu bongkar muat barang (dwelling time) di Indonesia.

Deputi II Bidang Sumber Daya dan Jasa Kemenko Maritim Agung Kuswandono mengatakan, tiga pelabuhan di Banten yang dipersiapkan adalah Merak Emas, Ciwandan, dan juga Cigading. Ketiga pelabuhan ini dimiliki oleh PT Pelindo II (Persero) di Ciwandan, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cigading, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. di Merak.

Untuk dapat merealisasikan hal ini, Menteri Koordinator Bidang Maritim Rizal Ramli telah menyurati Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. “Senin besok kami akan ke Banten bersama dengan Menteri Perhubungan, Ditjen Bea Cukai, operatornya, pemda, dan segenap perusahaan yang ada di Provinsi Banten,” kata Agung saat konferensi pers di kantor Pelindo II, Jakarta, Jumat (18/3).

Agung mengatakan, ada beberapa faktor yang mendukung dipilihnya pelabuhan di Banten untuk mengalihkan lalu lintas arus kontainer dari pelabuhan Tanjung Priok. Salah satu alasan tersebut adalah kondisi geografis. Tiga pelabuhan tersebut memiliki kedalaman laut yang ideal untuk disinggahi kapal besar.

Tiga pelabuhan ini diperkirakan sudah bisa menampung kontener sebanyak 1,5 juta TEUs (twenty foot equivalent units). Kapasitas ini setara dengan 22,7 persen dari total arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok yang mencapai 6,5 juta TEUs.

Menurut dia, peningkatan arus barang yang terjadi setiap tahunnya, tidak akan bisa dipegang sendirian oleh Pelabuhan Tanjung Priok. Makanya butuh alternatif pelabuhan yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk membantu meringankan beban Pelabuhan Tanjung Priok. Dia pun membantah rencana penggunaan tiga pelabuhan ini kontraproduktif dengan rencana pembangunan infrastruktur kepelabuhanan pemerintah lain.

Sebelumnya, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) telah menyiapkan beberapa proyek untuk mengurai kepadatan Tanjung Priok. Diantaranya pembangunan Inland Waterways Cikarang yang membuka akses arus barang dari pelabuhan Tanjung Priok ke Cikarang melalui jalur sungai. Kemudian pembangunan pelabuhan di utara Jawa Barat dan pengembangan Pelabuhan Cirebon.

“Ini nanti sifatnya akan saling mendukung, karena tidak bisa Tanjung Priok itu sendiri meng-handle kontainer,” kata Agung, seperti dilansir katadata.co.id.

Rencana pengalihan arus barang ini diharapkan dapat menurunkan dwelling time yang telah ditargetkan pemerintah. Presiden Joko Widodo menargetkan dwelling time di Indonesia bisa turun menjadi 2-3 hari mulai bulan depan. Sebenarnya angka dwelling time sudah turun dari 4,7 hari pada akhir tahun lalu, menjadi 3,5 hari saat ini.

Selain dari tiga pelabuhan alternatif di Banten, penurunan dwelling time juga akan dilakukan dengan pengoperasian kereta pelabuhan. Pelaksanaannya, kata Agung, masih harus menunggu proses administrasi antara PT Kereta Api Indonesia (Persero), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, dan Pelindo II. Kereta pelabuhan ini dipastikan tidak akan mengganggu lalu lintas transportasi darat, karena perjalannya hanya empat kali dalam satu hari.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here