Tim Satgas Dwelling Time Akui Kereta Barang Bukan Untuk Gantikan Truk Kontainer di Tanjung Priok

0
310
Masinis menaiki lokomotif kereta api kontainer pada peresmian angkutan peti kemas menggunakan kereta tersebut di Terminal Peti Kemas, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/4). Dengan dibukanya kembali angkutan KA kontainer dengan jalur Surabaya-Jakarta itu diharapkan dapat memperlancar arus petikemas dan dapat bersinergi dengan konsep tol laut seperti yang digagas Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/Rei/Spt/15.

Jakarta – (suaracargo.com)

Tim Satuan Tugas Dwelling Time yang dibentuk pemerintah dan diawasi oleh Kemenko Maritim mengaku operasional rel kereta api barang ke Pelabuhan Tanjung Priok tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran truk kontainer.

Agung Kuswandono, Ketua Tim Satuan Tugas Dwelling Time (Satgas), menegaskan bahwa operasional rel kereta api barang di pelabuhan tersebut diberlakukan guna mendukung arus kontainer yang keluar dari Tanjung Priok.

“Kereta bukan bermaksud untuk mengantikan semua kontainer truk. Tapi dimaksudkan untuk mendukung karena hitungan KAI hanya 1% dari total throughput yang masuk di Priok. Artinya belum begitu besar,” paparnya, Jumat (18/3).

Berdasarkan perhitungan tersebut, dia mengatakan kontainer yang dapat dimuat per kereta mencapai 60 TEUs.

Namun, Tim Satgas Dwelling Time yang dibentuk sejak akhir tahun lalu mengaku perhitungan tersebut belum dilakukan secara rill. Kendati demikian, operasi kereta barang di Pelabuhan Tanjung Priok diyakini mampu mengurangi dwelling time atau waktu inap kontainer di pelabuhan dan kemacetan di Tanjung Priok.

Untuk menarik minat importir atau pemilik barang, Tim Satgas akan mengupayakan agar emplasmen kereta api yang sekarang berstatus Lini II diubah menjadi Lini I atau lapangan kontainer atau container yard JICT.

Dengan pendekatan seperti ini, dia berharap agar pemilik barang tidak sampai dibebani biaya double handling sehingga tertarik untuk menggunakan kereta api.

Selain itu, Tim Satgas Dwelling Time akan mendorong penyelesaian permasalahan emplasmen yang masih belum diselesaikan antara PT KAI dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Sementara itu, Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mengaku jika dalam kondisi normal, penanganan petikemas diupayakan akan dilakukan seminimal mungkin di area JICT.

Terkait emplasmen rel kereta yang ingin diperhitungkan masuk ke Lini I, dia mengaku perusahan tengah melakukan pembahasan intensif dengan PT KAI dan Kalog.

“Yang sementara ini masih berada di luar One Zone TPS JICT Koja ,” ujarnya di acara IPC Customer Awards, Minggu (20/3).

Namun jika rel kereta diteruskan pembangunannya hingga Lini I, dia melihat pengembangannya akan sulit karena terkendala hambatan jalan dan makam Mbah Priok.

Dia mengaku kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk merealisasikan hal tersebut. Berdasarkan diskusi dengan Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, kontainer disepakati ditangani di Lini II sebelum masuk melewati Joint Gate One Zone TPS JICT Koja.

Joint Gate ini tengah digarap perusahaan dan diharapkan selesai pada April dan Mei 2016.

“Kita terus evaluasi tetap mendukung program pemerintah, namun tidak dengan mengorbankan performance Terminal JICT sendiri,” tegasnya, seperti dilansir bisnis.com.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here