Tingginya Disparitas Harga Sebabkan Indonesia Tidak Masuk Peta Maritim Dunia

0
490
Sejumlah kapal kontainer bersandar di pelabuhan PT. Pelindo IV cabang Bitung yang bakal menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) , Sulawesi Utara, Jumat (6/7). ANTARA/Fiqman Sunandar
Sejumlah kapal kontainer bersandar di pelabuhan PT. Pelindo IV cabang Bitung yang bakal menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) , Sulawesi Utara, Jumat (6/7). ANTARA/Fiqman Sunandar

Surabaya – (suaracargo.com)

Pelabuhan-pelabuhan di kawasan timur Indonesia memegang peranan penting untuk transportasi laut. Pelabuhan-pelabuhan ini nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menekan angka inflasi karena bisa membuat disparitas harga antar wilayah makin rendah. Selama ini, biaya logistik yang tinggi menyebabkan harga jeruk Pontianak lebih mahal ketimbang jeruk Tiongkok.

Bahkan, disparitas harga itu juga membuat biaya bongkar-muat dan kirim kargo ke Papua jauh lebih mahal ketimbang ke Luxemburg di Eropa. ”Soalnya setiap kapal pulang dari kawasan timur tidak membawa banyak muatan sehingga biaya dibebankan pada kargo yang diberangkatkan sebelumnya dari Jawa,” ujar Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Danang Parikesit, sebagaimana dilansir .

Biaya transportasi yang mahal itu juga bisa meningkatkan harga akhir dari produk pertanian 20-25 persen . Kenyataannya, kurang dari 2 persen produk pertanian yang bisa diangkut kapal. ”Mahalnya biaya logistik menjadikan transportasi maritim Indonesia tidak masuk dalam daftar peta perdagangan maritim dunia. Yang ada hanya Singapura dan Malaysia,” kata Danang, yang menjadi Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Tema transportasi laut itu menjadi bahasan seminar dalam acara “Jelajah Laut” di atas KMP Trunojoyo yang berlayar menyusuri Selat Madura, Pelabuhan Tanjung Perak, hingga Gresik pada 25 September 2014. Acara yang diadakan oleh Pustral UGM itu diikuti wartawan, mahasiswa teknik perkapalan ITS, puluhan wakil MTI, serta pejabat Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jawa Timur.

Menurut Danang, pelabuhan seperti di Sorong-Papua dan Bitung-Sulawesi Utara bisa dijadikan pintu masuk bagi 14.000 kapal yang beroperasi di Indonesia. Jika hal itu bisa direalisasikan, lalu lintas laut di kawasan timur akan ramai, mengurangi biaya transportasi kapal yang selama ini pelayarannya tidak terjadwal, serta mendorong migrasi transportasi darat ke laut.

Menurut Danang, minimnya aktivitas bongkar muat kapal, terutama di pelabuhan-pelabuhan di kawasan timur menyebabkan biaya logistik meningkat hingga 30 persen dari harga bahan baku. Selama ini, efisiensi keluar masuk kontainer membawa barang dari pelabuhan hanya sepuluh persen.

Peserta “Jelajah Laut” juga mengunjungi perusahaan galangan nasional PT PAL Indonesia. Mereka secara langsung menyaksikan aktivitas pembangunan kapal perang serta reparasi kapal milik TNI dan Pertamina. ”Saat ini kami sedang bersiap membangun kapal selam dengan target penyelesaian tahun 2020,” kata Dirut PT PAL Firmansyah Arifin.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here