Wagub Jatim Ekspresikan Kekaguman Pada Pelabuhan

    0
    383
    PELABUHAN - Wagub Jatim Saifullah Yusuf saat berkunjung ke Gdanks Port, pelabuhan kapal barang di Polandia, Minggu (27/11/2016). (foto: istimewa)

    Gdanks Port – (suaracargo.com)

    Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengagumi kecepatan layanan bongkar muat saat kapal sandar di Gdanks Port, pelabuhan kapal barang di Polandia.

    “Aktivitas sandar dan bongkar muat di Pelabuhan Polandia itu luar biasa cepat dan efesiensi operasional pelabuhan di Polandia,” ungkap Gus Ipul yang baru saja diterima kunjungannya di pelabuhan tersebut, Minggu (27/11/2016).

    Waktu yang dibutuhkan untuk bongkar barang sampai pelabuhan (dwelling time) di sana sangat cepat. Pelabuhan tersebut juga tak memerlukan sumberdaya manusia yang banyak.

    Selain mengunjungi Gdanks Port, Gus Ipul mewakili Pemprov Jatim juga mengunjungi Galangan Kapal Crist. Kedua lokasi itu terletak di Provinsi Promenia, Polandia. Pengelolaan kedua objek vital itu diaerahkan otoritas pelabuhan setempat.

    Pelabuhan yang terletak di daerah Gdynia ini merupakan pelabuhan terbesar di kawasan Baltik. Luasnya sebesar pelabuhan Tanjung Perak. Pelabuhan ini bisa disandari jenis post panamax dengan kapasitas muat 5000 TeUs. Jenis ini juga bisa masuk ke Tanjung Perak.

    Pelabuhan ini memiliki kelebihan masa tunggu labuh dan dwelling time yang sangat singkat. Masa tunggu hanya nol, sedangkan dwelling time 8 jam. Sementara Tanjung Perak butuh waktu 2-5 hari dan dwelling time rata-rata 2-3 hari.

    Direktur Humas dan Urusan Luar Negeri, Julian Skelnik menuturkan bahwa SDM, fasilitas dan infrastruktur di sana bagus. Hanya ada 200 orang. Mereka melayani bongkar muat 3 juta teus per tahun.

    Yang menarik, pelabuhan hanya mengurusi bongkar muat barang. Sedangkan untuk urusan lain seperti bea cukai, keamanan, dan karantina, semuanya berlangsung di luar pelabuhan.

    “Kalau ada masalah, maka menjadi tanggungjawab para pemilik barang dengan instansi yang terkait,” kata Julian, seperti dilansir surya.co.id.

    Menurut Gus Ipul, hal itu yang membedakan antara manajemen pelabuhan di Polandia dan Indonesia. Tumpang tindih urusan administrasi dari berbagai instansi yang ada di dalam pelabuhan membuat manajemen pelabuhan kita tidak efesien.

    “Tampaknya memang banyak hal yang harus dibenahi di pelabuhan kita?,” tutur wakil gubernur yang juga Ketua PBNU ini.
    Selain mengunjungi pelabuhan, delegasi Pemprov Jatim yang dipimpin Gus Ipul juga melihat galangan kapal (shipyard) Crist. Galangan seluas 28 hektar ini diproduksi 300 kapal dengan berbagai jenis sejak berdiri tahun 2010.

    Galangan kapal ini semula murni milik swasta. Baru kemudian mereka menjual 30 persen sahamnya kepada pemerintah. Produksi kapal dengan berbagai jenis ini pesanan dari berbagai negara di Eropa.

    Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY