Wagub: Pelabuhan Kijing Berdampak Besar Bagi Perekonomian

0
77
Pantai Kijing Mempawah (http://akcayanews.com/)

Pontianak – (suaracargo.com)

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya memastikan bahwa pembangunan pelabuhan Internasional di Mempawah dapat memberikan dampak besar bagi perekonomian dan pembangunan di Kalbar.

“Pelabuhan Kijing di Mempawah ini memang menjadi dambaan bagi kita semua, setelah sekian lama kita mengajukan rencana pembangunannya, akhirnya hal ini bisa terealisasi,” kata Christiandy.

Dia memastikan, dengan adanya pembangunan Pelabuhan Kijing tersebut, dapat lebih memudahkan masuk dan keluarnya barang di Kalimantan Barat. Mengingat pelabuhan Dwikora yang ada di Pontianak, saat ini sudah tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas bongkar muat, mengingat seringnya terjadi penyumbatan pada muara Sungai Kapuas.

“Dengan adanya pembangunan pelabuhan Kijing ini, maka kedepan kapal-kapal besar bisa masuk ke sini dan ini tentu akan mempengaruhi harga komoditi yang ada, yang tentunya bisa lebih murah. Selama ini kapal yang berlabuh di Pelabuhan Dwikora Pontianak hanya kapal kecil hanya sekitar 2000�2500 DWT, sehingga kost yang dikeluarkan jadi lebih besar,” tuturnya.

Jadi, kata Christiandy, dengan dibangunnya pelabuhan besar di Pantai Kijing, Kabupaten Mempawah, maka hal itu akan memberikan nilai tambah bagi Kalbar. Baik itu bagi masyarakat secara umum maupun bagi Pemerintah Provinsi Kalbar.

Karena, nantinya pembangunan pelabuhan itu secara tidak langsung akan membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat sekitar Kecamatan Sungai Kunyit dan Pantai Kijing. Selain itu, pembangunan ini juga akan memberikan tambahan pendapatan bagi Pemprov Kalbar dan juga Pemkab Mempawah .

“Hal ini penting karena selama ini hasil sumber daya alam, khususnya Crude Palm Oil (CPO) dari Kalbar diekspor melalui provinsi lain karena Kalbar tidak memiliki pelabuhan besar yang dapat dilabuhi kapal besar,” katanya.

Jika pelabuhan besar itu sudah dibangun maka nantinya CPO dari Kalbar bisa diekspor dari pelabuhan di Kalbar.

“Jadi, ada nilai tambah pendapatan, khususnya pajak bagi Kalbar dan tidak seperti yang terjadi selama ini Kalbar tidak mendapatkan pajak ekspor CPO,” kata Christiandy, seperti dilansir Antara Kalbar.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto berharap, dengan adanya rencana pembangunan pelabuhan Kijing di Mempawah ini dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk meningkatkan perekonomian mereka.

“Ini merupakan kesmepatan yang sangat baik dn harus bisa dimanfaatkan betul oleh masyarakat. Salah satunya adalah dengan mempersiapkan generasi penerus melalui pendidikan mereka,” kataa Dwi.

Jangan sampai, lanjutnya, masyarakat Mempawah dan Kalbar hanya jadi penonton, disaat pembangunan pelabuhan sudah terealisasi dan investasi banyak masuk, justru orang luar yang banya bekerja disana.

“Untuk itu, sekolahkan anak-anak kita setinggi-tingginya, agar bisa terserap dunia kerja. Ini harus menjadi atensi bersama bagi masyarakat dan Pemda setempat, agar pembangunan yang ada memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, Elvyn G. Masassya mengatakan proses pembangunan tahap awal Pelabuhan Kijing yang berada di Kabupaten Mempawah ditargetkan mulai September tahun ini sudah dikerjakan.

“Tahun ini ditargetkan sudah dimulai ada proses pembangunan. Pembangunan terminal pertama sendiri dijadwalkan selesai tahun 2019 dan pada 2022 dilanjutkan ke tahap selanjutnya,” ujarnya, belum lama ini.

Ia menjelaskan Pelabuhan Kijing yang dicanangkan sebagai pelabuhan internasional tersebut akan dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana yang baik seperti peti kemas dan lainnya.

“Secara umum kapasitas untuk Pelabuhan Kijing ditargetkan 2,5 juta teus per tahun. Namun untuk tahap awal ditargetkan 1,5 juta teus,” paparnya.

Dipaparkannya adapun total area yang dibutuhkan untuk menunjang hadirnya pelabuhan tersebut seluas 200 hektare.

“Namun karena pelabuhan tersebut juga akan dilengkapi dengan kawasan industri maka dalam jangka panjang dibutuhkan area seluas 5000 hektare,” kata dia.

Sejauh ini, katanya, dia sudah ada beberapa patner yang akan siap bisinergi termasuk dari sejumlah BUMN maupun pihak swasta.

“Kita harapkan, dalam pembangunannya nanti tidak ada kendala, sehingga bisa cepat selesai,” kata Elvyn.
(U.KR-RDO/B012)

Pewarta: Rendra Oxtora

Editor: M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY