WIKA dan Pelindo II akan Garap Proyek Pembangunan Pelabuhan Sorong

0
461

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan mendekati PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II untuk menggarap proyek Pelabuhan Sorong di Papua Barat. Wika berminat menjadi kontraktor sekaligus investor pada proyek yang nilainya ditaksir senilai Rp 3 triliun tersebut.

Direktur Keuangan Wika Aji Firmantoro mengatakan, perseroan ingin masuk kembali ke proyek baru pelabuhan. Sebelumnya, perseroan telah meneken kesepakatan dengan Pelindo I untuk kerja sama pembangunan dan pengelolaan Terminal Petikemas di Pelabuhan Batu Ampar Batam dan Pelintung Dumai.

“Selain ingin menjadi kontraktor, kami berharap menjadi investor, meski porsinya kecil. Nanti itu tergantung Pelindo II dan konsorsiumnya terdiri atas siapa saja,” kata Aji di Jakarta, Kamis (13/8).

Berdasarkan data Pelindo II, rencana pengembangan Pelabuhan Sorong dilakukan pada 2016 hingga 2019. Pelabuhan tersebut bakal memiliki kapasitas 15 juta ton dengan nilai proyek Rp 3 triliun. Pemerintah kabupaten setempat akan memfasilitasi pembebasan lahan untuk pelabuhan yang akan terintergrasi dengan zona ekonomi khusus.

“Kami masih mengkaji ingin punya porsi berapa di Pelabuhan Sorong. Kemungkinan minoritas, seperti pada proyek Petikemas Batu Ampar. Di situ, kami punya porsi 15 persen,” tutur Aji, seperti dilansir beritasatu.com.

Kontrak Baru

Sementara itu, Wika berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp 14 triliun hingga akhir Juli 2015. Kotrak tersebut setara dengan 44,24 persen dari target tahun ini yang mencapai Rp 31,64 triliun.

Perseroan bakal mengejar target kontrak baru tersebut pada semester II ini. Menurut Aji, kontrak dari pemerintah akan berkontribusi lebih dari 50 persen tahun ini. Dia optimistis akan meraih cukup banyak kontrak baru pada kuartal III-2015. Salah satu megaproyek yang akan digarap Wika adalah proyek kereta cepat atau high speed railways Jakarta-Bandung.

Pemerintah resmi menetapkan Wika sebagai pemimpin konsorsium HSR pada April 2015. Anggota konsorsium terdiri atas PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Industri Kereta Api, PT LEN Industri, dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Lebih lanjut, Pemerintah Tiongkok telah menyatakan keseriusannya untuk mengucurkan investasi ke proyek HSR. Perusahaan pelat merah asal Tiongkok, yaitu China Railway Corporation, berkomitmen menyiapkan dana sebesar US$ 5,5 miliar.

Adapun konsorsium Wika membidik porsi kepemilikan sebesar 60 persen pada proyek HSR. Aji pernah mengatakan, beberapa opsi pendanaan proyek HSR masih dikaji. Sejumlah opsi itu antara lain penawaran umum terbatas saham (rights issue) yang disertai penyertaan modal negara (PMN) pada 2016.

Sebelumnya, Wika berharap memperoleh PMN sebesar Rp 5-7,2 triliun. Namun, pada tahap awal, perseroan mengajukan permohonan suntikan modal ke pemerintah melalui Kementerian BUMN sebesar Rp 3 triliun.

Selain rights issue, perseroan tersebut juga mengkaji penerbitan obligasi lebih dari Rp 1 triliun pada tahun depan. “Obligasinya bisa global ataupun domestik. Tergantung pasarnya nanti,” jelas Aji.

Menurut dia, sumber proyek HSR juga bisa berasal dari belanja modal (capital expenditure/capex) 2016. Perseroan memperkirakan, capex tahun depan sekitar Rp 3-4 triliun, naik dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun ini yang sebesar Rp 2 triliun.

Di tengah proyek yang ada, Wika berupaya melihat peluang di sektor-sektor baru. Salah satu proyek yang akan digenjot perseroan adalah pembangkit listrik. Wika bersama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) tengah menjajaki pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2×500 megawatt (MW) di Banten. Nilai proyek tersebut ditaksir mencapai US$ 1,5 miliar. Itu dengan asumsi 1 MW membutuhkan dana sekitar US$ 1,5 juta.

Menurut Aji, pihaknya memprediksi feasibility study proyek power plant tersebut ditargetkan rampung tahun ini. “Dalam kerja sama tersebut, Krakatau Steel yang menyediakan lahannya, dan kami menjadi pihak yang membangun power plant. Lokasinya dekat tepi pantai,” jelas dia.

Perseroan belum dapat menjelaskan secara rinci timeline pembangunan power plant tersebut, lantaran hingga kini masih dalam tahap kajian. Namun, perseroan diperkirakan akan menggandeng mitra asing dalam konsorsium proyek ini.

Sepanjang semester I-2015, Wika membukukan pendapatan Rp 4,77 triliun, turun 18,35 persen dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 5,85 triliun. Laba bersih turut anjlok 29,06 persen menjadi Rp 200,49 miliar dari Rp 282, 65 miliar.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here